Oleh: Dr. Bhenu Artha, S.E., M.M., Dosen Program Studi Kewirausahaan, Fakultas Ekonomi, Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta
Tunjangan Hari Raya (THR) sering kali dipersepsikan masyarakat sekadar sebagai “uang lebaran” yang identik dengan peningkatan konsumsi menjelang hari raya. Banyak orang memanfaatkannya untuk membeli pakaian baru, memberikan hadiah kepada keluarga, hingga memenuhi berbagai kebutuhan perayaan lainnya. Tidak jarang, dana tersebut habis dalam waktu singkat tanpa perencanaan yang jelas. Padahal, jika dilihat dari perspektif literasi keuangan, THR sesungguhnya dapat menjadi momentum penting untuk melatih kedewasaan finansial sekaligus menguji kemampuan seseorang dalam mengelola tambahan pendapatan secara bijak.
Dalam konteks pengelolaan keuangan pribadi, langkah pertama yang ideal adalah mengalokasikan THR secara sistematis ke beberapa pos utama yang memang menjadi kebutuhan prioritas. Di antaranya adalah pembayaran zakat atau sedekah sebagai bentuk kewajiban dan kepedulian sosial, biaya mudik bagi yang hendak pulang ke kampung halaman, serta kebutuhan dasar perayaan lebaran bersama keluarga. Dengan adanya perencanaan alokasi yang jelas sejak awal, penggunaan dana THR menjadi lebih terarah sehingga tidak mudah tercecer untuk pengeluaran yang bersifat impulsif. Disiplin dalam menyusun dan menjalankan anggaran merupakan fondasi penting dalam membangun kebiasaan pengelolaan keuangan yang sehat.
Selain itu, sisa dana THR sebaiknya tidak langsung dihabiskan untuk konsumsi tambahan, melainkan dialihkan ke tabungan atau instrumen investasi sederhana. Prinsip yang perlu ditekankan bukanlah besarnya nominal yang disisihkan, tetapi konsistensi dalam membangun kebiasaan menabung dan berinvestasi. THR dapat dimanfaatkan sebagai modal awal untuk memperkuat dana darurat, menambah tabungan pendidikan anak, atau bahkan mulai mencoba instrumen investasi yang relatif aman seperti deposito atau reksa dana pasar uang. Dengan cara ini, THR tidak hanya memberikan manfaat jangka pendek, tetapi juga berkontribusi terhadap perencanaan keuangan jangka panjang.
Di sisi lain, fenomena konsumsi berlebihan menjelang lebaran sering kali menjadi tantangan tersendiri. Tradisi membeli pakaian baru, dekorasi rumah, hingga berbagai hidangan khas lebaran kerap mendorong masyarakat untuk berbelanja di luar kebutuhan yang sebenarnya. Tanpa pengendalian diri, perilaku konsumtif ini dapat menggerus nilai THR secara signifikan. Oleh karena itu, menyusun daftar belanja yang realistis dan memprioritaskan kebutuhan yang benar-benar penting merupakan langkah sederhana namun efektif untuk menjaga stabilitas keuangan. Kemampuan menahan diri dari godaan konsumsi berlebihan pada dasarnya merupakan indikator kedewasaan dalam literasi finansial.
Bagi kelompok masyarakat dengan pendapatan yang tidak tetap, THR bahkan memiliki fungsi yang lebih strategis. Dana tersebut sebaiknya diperlakukan sebagai cadangan keuangan yang dapat digunakan untuk menopang kebutuhan rumah tangga pada bulan-bulan berikutnya ketika pendapatan sedang menurun. Dalam situasi ekonomi yang tidak selalu stabil, memiliki dana cadangan menjadi faktor penting untuk menjaga ketahanan finansial keluarga. Oleh karena itu, memanfaatkan THR sebagai buffer atau bantalan keuangan merupakan keputusan yang jauh lebih bijak dibandingkan menghabiskannya sekaligus untuk konsumsi sesaat.
Pada akhirnya, THR seharusnya tidak semata-mata dipandang sebagai “uang tambahan” untuk merayakan lebaran, melainkan sebagai sarana pembelajaran praktis dalam mengelola keuangan. Momen ini dapat dimanfaatkan untuk membangun kebiasaan perencanaan anggaran, memperkuat budaya menabung, serta menumbuhkan kesadaran akan pentingnya investasi jangka panjang. Mereka yang mampu mengelola THR secara bijak akan merasakan manfaat yang lebih berkelanjutan dalam kehidupan finansialnya. Sebaliknya, mereka yang menghabiskannya tanpa perencanaan kemungkinan besar hanya akan kembali ke siklus yang sama setiap tahun: euforia konsumsi sesaat yang kemudian diikuti oleh penyesalan ketika kondisi keuangan kembali terbatas.
Dalam perspektif yang lebih luas, membiasakan pengelolaan THR secara cerdas juga dapat menjadi bagian dari upaya meningkatkan literasi keuangan masyarakat. Jika setiap individu mampu memanfaatkan momentum ini untuk memperbaiki pola pengelolaan keuangannya, maka secara kolektif hal tersebut akan berkontribusi terhadap terciptanya masyarakat yang lebih bijak dalam mengelola pendapatan, lebih siap menghadapi ketidakpastian ekonomi, dan lebih mampu merencanakan masa depan secara berkelanjutan.