Indonesia berpotensi menghadapi ujian serius ketahanan pangan pada 2026 seiring ancaman fenomena El Niño yang diprediksi mulai muncul pada pertengahan tahun. Kesiapsiagaan berbasis data iklim, teknologi pertanian, serta penguatan cadangan pangan strategis dinilai menjadi kunci untuk menjaga stabilitas produksi dan harga pangan nasional.
Hal tersebut disampaikan Guru Besar Program Studi Teknologi Pangan Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta, Prof. Dr. Ir. Ambar Rukmini, M.P., dalam Seminar Outlook Indonesia 2026 yang digelar di Auditorium Gedung Piwulangan Kampus Terpadu UWM, Selasa (16/12).
“Ketahanan pangan adalah kedaulatan bangsa. Tanpa persiapan matang menghadapi El Niño 2026, stabilitas produksi dan harga pangan nasional bisa terguncang,” tegas Prof. Ambar.
Dalam paparannya, Prof. Ambar menjelaskan bahwa ketidakpastian global, mulai dari konflik geopolitik, tekanan inflasi pangan, hingga gangguan rantai pasok dunia, menjadikan ketahanan pangan sebagai isu strategis nasional. Meski demikian, Indonesia dinilai memiliki fondasi ekonomi yang relatif kuat, ditandai dengan cadangan devisa tertinggi sepanjang sejarah serta surplus neraca perdagangan yang konsisten. Kondisi tersebut memberikan ruang kebijakan bagi pemerintah untuk memperkuat sektor pangan.
Dari sisi produksi, Indonesia menunjukkan tren yang positif. Produksi beras nasional pada 2026 diproyeksikan mencapai lebih dari 34 juta ton, menempatkan Indonesia sebagai produsen beras terbesar keempat di dunia. Selain itu, stok cadangan beras pemerintah tercatat berada pada level tertinggi sejak 1969, sehingga menjadi bantalan penting dalam meredam gejolak harga dan pasokan di tengah ancaman iklim ekstrem.
Pemerintah, lanjut Prof. Ambar, juga mengalokasikan anggaran ketahanan pangan sebesar Rp164,4 triliun pada 2026. Anggaran tersebut difokuskan pada peningkatan produksi pangan, penguatan distribusi dan cadangan, serta stabilisasi konsumsi masyarakat. Sejumlah program prioritas seperti penguatan Bulog, subsidi pupuk, pembangunan lumbung pangan modern, hingga percepatan modernisasi pertanian menjadi tulang punggung strategi nasional.
Namun demikian, ancaman El Niño tidak dapat dipandang remeh. Penurunan curah hujan, risiko kekeringan meteorologis, serta gangguan sistem irigasi berpotensi menekan produksi padi dan komoditas strategis lainnya. Berkaca pada El Niño 2015, Prof. Ambar menekankan pentingnya penguatan sistem peringatan dini, optimalisasi teknologi digital pertanian, serta penyuluhan berbasis data cuaca real-time agar petani mampu mengambil keputusan secara cepat dan tepat.
“Produksi bisa ditingkatkan, anggaran bisa disiapkan, tetapi tanpa kolaborasi antara pemerintah, petani, akademisi, dan masyarakat, ketahanan pangan akan rapuh,” ujar mantan Dekan Fakultas Sains dan Teknologi UWM tersebut.
Ia menegaskan bahwa inovasi, pemberdayaan petani, serta edukasi konsumsi pangan bergizi harus berjalan secara terpadu sebagai satu kesatuan strategi menuju swasembada dan kedaulatan pangan pada 2026.
Seminar Outlook Indonesia 2026 yang diselenggarakan Universitas Widya Mataram ini menjadi ruang refleksi sekaligus peringatan dini bahwa ketahanan pangan bukan semata isu pertanian, melainkan fondasi penting bagi stabilitas ekonomi, sosial, dan kedaulatan bangsa di tengah ketidakpastian global.