Home
news
Pelajaran Kepemimpinan dari Kraton Yogyakarta di Bulan Maulid

Pelajaran Kepemimpinan dari Kraton Yogyakarta di Bulan Maulid

news Senin, 2025-09-08 - 23:38:45 WIB

Oleh: Bagus Anwar Hidayatulloh, S.H., M.H., M.Sc., Dosen Program Studi Hukum, Fakultas Hukum, Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta

Bulan Maulid, bulan kelahiran Nabi Muhammad, senantiasa menjadi momen penting bagi Kraton Yogyakarta. Setiap tahun, berbagai kegiatan digelar, mulai dari sekaten, grebeg, hingga tradisi budaya yang mengakar dalam kehidupan masyarakat. Rentetan acara ini bukan sekadar ritual keagamaan atau seremoni budaya, melainkan perwujudan relasi historis dan spiritual antara kraton dan rakyatnya.

Bagi Kraton Yogyakarta, bulan Maulid adalah kesempatan untuk mempertemukan nilai-nilai Islam, budaya Jawa, dan kearifan lokal dalam bingkai kebersamaan. Prosesi sekaten misalnya, sejak dahulu dipakai sebagai sarana syiar Islam melalui gamelan, pasar rakyat, dan tradisi yang dapat menjangkau masyarakat luas. Grebeg Maulud dengan pembagian gunungan menjadi simbol kepedulian kraton terhadap rakyat, sebuah penegasan bahwa pemimpin dan rakyat tidak bisa dipisahkan, kraton hadir bukan di menara gading, melainkan di tengah kehidupan rakyatnya.

Makna terdalam dari rentetan tradisi itu adalah ajaran kerendahhatian, kebersamaan, dan tanggung jawab pemimpin kepada rakyat. Nilai ini sangat relevan dengan Indonesia hari ini. Di tengah arus globalisasi, krisis moral, dan menguatnya pragmatisme politik, kita kerap melupakan hakikat kepemimpinan sebagai amanah. Kraton Yogyakarta mengajarkan bahwa budaya dapat menjadi media untuk menyatukan, menenangkan, sekaligus mendidik masyarakat.

Pesan untuk Indonesia kini jelas, pemimpin seharusnya hadir di tengah rakyat, memahami kebutuhan mereka, dan memberikan keteladanan moral serta spiritual. Negara harus belajar dari filosofi grebeg bahwa kekuasaan hanyalah sarana untuk menyalurkan berkah dan kemanfaatan, bukan sekadar alat untuk mempertahankan status. Tradisi sekaten juga mengingatkan bahwa agama dan budaya dapat berjalan beriringan, saling menguatkan, dan memberi ruang bagi masyarakat untuk menemukan jati dirinya.

Rentetan kegiatan kraton di bulan Maulid adalah bukti bahwa budaya bukan warisan statis, melainkan energi hidup yang terus memberi inspirasi. Bagi Indonesia, inilah momentum untuk kembali meneguhkan identitas, merawat budaya, menjaga persatuan, dan menghadirkan kepemimpinan yang menyatu dengan rakyat.


Share Berita