Keberhasilan pendampingan UMKM tidak hanya ditentukan oleh penguasaan materi teknis, tetapi juga oleh kecakapan komunikasi interpersonal yang mumpuni. Kegagalan pendampingan sering kali bukan disebabkan oleh kurangnya materi, melainkan oleh kurangnya kemampuan fasilitator membangun hubungan komunikasi yang efektif dengan pelaku UMKM. Komunikasi merupakan instrumen strategis yang menjadi inti keberhasilan program pemberdayaan UMKM. Hal tersebut ditegaskan Dr. Oktiva Anggraini, M.Si., saat pelaksanaan program Training of Trainer (TOT) bagi mahasiswa yang disiapkan menjadi fasilitator pendamping UMKM di Kalurahan Banyuraden, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman.
"Mahasiswa tidak hanya dibekali pengetahuan teknis, tetapi juga keterampilan komunikasi efektif yang menjadi kunci dalam membangun relasi dengan pelaku UMKM. Komunikasi yang baik akan membuka ruang bagi transfer pengetahuan dan pendampingan yang berkelanjutan," ujarnya.
Pelatihan yang diikuti oleh 15 mahasiswa terpilih ini menghadirkan sejumlah materi penting seperti Nisfarul Izzah, S.E., M.A., Dosen Program Studi Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta, yang menyajikan materi Business Model Canvas (BMC) sebagai panduan praktis dalam merancang bisnis sederhana. Materi tersebut wajib dipahami dengan baik oleh calon fasilitator, karena mereka yang kelak akan mendampingi UMKM dalam meningkatkan kapasitas usahanya. Selain itu, mahasiswa juga diedukasi tentang Nomor Induk Berusaha (NIB) oleh Iva Mindhayani, S.T, M.T. NIB merupakan identitas legal yang wajib dimiliki setiap pelaku UMKM sebagai bentuk pengakuan hukum atas kegiatan usahanya. NIB berfungsi sebagai pintu akses utama menuju permodalan, perizinan lanjutan, dan perlindungan hukum.
Program Pengabdian kepada Masyarakat ini hadir untuk menjawab tantangan rendahnya literasi finansial, semangat berwirausaha, serta berbagai persoalan yang dihadapi UMKM di Banyuraden pada umumnya. Dirancang dengan metode partisipatif dan berbasis komunitas, program ini menggandeng mahasiswa sebagai mitra sekaligus agen perubahan. Pelaksanaan program dilakukan bersama mitra UMKM dengan pendekatan kolaboratif yang membangun interaksi berkelanjutan. Pendekatan ini terbukti mampu menumbuhkan kepercayaan antara mahasiswa dan pelaku UMKM, sekaligus melahirkan solusi yang relevan dengan kebutuhan lokal.
Kegiatan ini tidak hanya meningkatkan kapasitas mahasiswa sebagai calon trainer yang kompeten dalam mendampingi UMKM menghadapi berbagai tantangan usaha, tetapi juga memperkuat tridharma perguruan tinggi melalui kontribusi nyata mahasiswa di tengah masyarakat. Di akhir sambutannya, Dr. Oktiva berharap aksi nyata ini dapat ditindaklanjuti oleh berbagai pihak agar memberikan dampak yang berkelanjutan bagi UMKM yang telah didampingi.