Home
news
MES DIY Anugerahkan Penghargaan kepada Almarhum Ustaz Muhammad Jazir sebagai Inovator dan Konseptor Manajemen Masjid

MES DIY Anugerahkan Penghargaan kepada Almarhum Ustaz Muhammad Jazir sebagai Inovator dan Konseptor Manajemen Masjid

news Sun, 2026-03-01 - 00:35:29 WIB

Masyarakat Ekonomi Syariah Wilayah D.I. Yogyakarta (MES DIY) secara resmi menganugerahkan penghargaan kepada almarhum Muhammad Jazir ASP sebagai Sang Inovator dan Konseptor Manajemen Masjid dalam seremoni yang digelar di Ruang Bangsal Mataram, Lantai 2, Kantor Perwakilan Bank Indonesia DIY, Jumat (27/2).

Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi besar almarhum dalam menghadirkan model manajemen masjid yang inklusif, transparan, dan berdampak langsung pada pemberdayaan ekonomi umat.

Ketua Umum MES DIY, Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec., dalam sambutannya menegaskan bahwa kontribusi almarhum tidak hanya sebatas pengelolaan masjid, tetapi telah menghadirkan praktik konkret ekonomi syariah berbasis komunitas.

“Beliau menunjukkan bahwa ekonomi syariah tidak hanya hidup dalam buku dan regulasi, tetapi dapat tumbuh nyata melalui masjid sebagai pusat peradaban dan pemberdayaan umat,” ujarnya.

Sebagai penggerak utama di Masjid Jogokariyan, almarhum menghadirkan paradigma baru pengelolaan masjid yang melampaui fungsi ritual. Masjid dikembangkan sebagai pusat ibadah, pendidikan, musyawarah, hingga pusat distribusi kesejahteraan umat.

Dalam perspektif tata kelola kelembagaan, Guru Besar Ilmu Ekonomi ini menyoroti keberanian almarhum dalam menerapkan manajemen keuangan yang transparan dan akuntabel. Laporan keuangan diumumkan secara terbuka kepada jamaah sehingga membangun kepercayaan publik yang menjadi fondasi penguatan ekonomi berbasis masjid.

Gagasan visioner “saldo infak masjid nol rupiah” menjadi salah satu terobosan penting, yakni dana umat tidak boleh mengendap, tetapi harus bergerak dan produktif untuk kebutuhan jamaah.

Dari prinsip tersebut lahir berbagai program pemberdayaan seperti ATM beras untuk warga kurang mampu, bazar dan pasar Ramadan bagi UMKM jamaah, usaha katering komunitas, angkringan jamaah, serta pengembangan wakaf progresif dan produktif.

“Ini adalah ekonomi syariah dalam praktik. Dana sosial Islam tidak berhenti sebagai simbol, tetapi menjadi instrumen distribusi kesejahteraan yang nyata,” tegas Rektor Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta ini.

Prof. Edy menegaskan bahwa penghargaan yang diberikan kepada almarhum bukan sekadar simbol, melainkan amanah kolektif bagi seluruh penggerak ekonomi syariah di DIY.

Ia mengajak pengurus masjid, akademisi, pelaku industri halal, lembaga keuangan syariah, dan pemerintah daerah untuk menjadikan model masjid produktif sebagai arus utama pengembangan ekonomi syariah.

“Warisan beliau menuntut kita untuk bergerak. Mari bangun jaringan masjid produktif, dorong wakaf progresif, dan jadikan masjid sebagai pusat ekosistem ekonomi syariah,” pungkasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia DIY, Hermanto, menegaskan komitmen otoritas moneter dalam mendukung penguatan ekonomi syariah di tengah dinamika global.

Ia menyampaikan bahwa ekonomi syariah saat ini menghadapi tantangan ketidakpastian baik di level domestik maupun global. Namun demikian, Bank Indonesia akan terus berkontribusi dalam pengembangan sektor tersebut, khususnya di Daerah Istimewa Yogyakarta.

“Ekonomi Syariah menghadapi ketidakpastian baik domestik maupun global. Bank Indonesia akan terus mendukung dan berkontribusi untuk Ekonomi Syariah, utamanya di Yogyakarta,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menegaskan sinergi antara regulator, komunitas, dan penggerak masjid dalam membangun ekosistem ekonomi syariah yang resilien dan berkelanjutan.

Acara penganugerahan dilanjutkan dengan pemutaran video kilas balik jejak dakwah almarhum, penyerahan penghargaan kepada ahli waris, serta Silaturahmi Kerja Wilayah (SILAKWIL) MES DIY 2026 yang dirangkaikan dengan buka puasa bersama sebagai forum konsolidasi penguatan program ekonomi syariah di wilayah DIY.


Share Berita