Home
news
Melodi Algoritma vs Tradisi Sosial: Ketika Dynamic Pricing Mengalun dalam Irama Arus Mudik

Melodi Algoritma vs Tradisi Sosial: Ketika Dynamic Pricing Mengalun dalam Irama Arus Mudik

news Kamis, 2026-03-12 - 16:09:28 WIB

Oleh: Antonius Satria Hadi, Ph.D., Dosen Program Studi Kewirausahaan, Fakultas Ekonomi, Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta

Setiap menjelang Lebaran, Indonesia mengalami arus mudik yang merupakan salah satu mobilitas manusia terbesar di dunia, di mana jutaan orang kembali ke kampung halaman untuk merayakan hari raya. Fenomena ini disertai lonjakan permintaan terhadap berbagai layanan transportasi, mulai dari tiket pesawat hingga transportasi daring. Hal ini seringkali memicu keluhan terkait kenaikan harga yang dianggap terlalu tinggi. Namun di balik itu ada sebuah mekanisme ekonomi yang dikenal dengan dynamic pricing.

Layaknya sebuah melodi yang bersifat dinamis, dynamic pricing juga memungkinkan perusahaan menyesuaikan harga secara fleksibel berdasarkan perubahan permintaan, waktu, dan kapasitas untuk dijadikan sebagai strategi penetapan harga. Ketika permintaan meningkat tajam seperti saat mudik, biasanya harga ikut naik. Maskapai penerbangan dan platform transportasi daring menerapkan sistem ini, di mana harga tiket dapat berubah tergantung pada waktu pemesanan dan tingkat keterisian kursi.

Meskipun dynamic pricing memiliki alasan ekonomi yang logis, fenomena ini sepertinya sering berbenturan dengan nilai sosial budaya Indonesia. Mudik bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga sebuah momen kebersamaan dan keharmonisan keluarga yang sarat dengan nilai emosional. Kenaikan harga yang seringkali tajam dianggap sebagai hambatan terhadap hak sosial masyarakat, yang seharusnya dapat merayakan Lebaran tanpa terbebani oleh biaya transportasi tinggi.

Apalagi di era digital ini, dynamic pricing semakin canggih berkat big data analysis dan algoritma yang membuat perubahan harga makin responsif. Meski demikian, muncul pertanyaan dilematis mengenai transparansi dan keadilan harga. Apakah masyarakat benar-benar dapat mengandalkan sistem ini ataukah mereka terus terjebak dalam ketidakpastian harga? Pemerintah sebaiknya secara konsisten menengahi masalah ini dengan kebijakan tarif batas atas, penambahan armada, dan program mudik gratis untuk mengurangi tekanan harga. Pun demikian juga dengan masyarakat agar memesan tiket, baik arus mudik ataupun arus balik jauh-jauh hari sebelum keberangkatan.

 


Share Berita