Media massa berperan sebagai jendela besar bagi publik untuk mengamati dunia di sekitar mereka. Melalui paduan teks, gambar, dan suara, media menciptakan kerangka interpretasi yang memengaruhi cara kita memahami peristiwa. Hal ini disampaikan oleh Tommy Satriadi Nur Arifin, S.I.Kom., M.A. di Kampus Terpadu Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta, Banyuraden, Gamping, Sleman pada Selasa (8/7).
Tommy menyampaikan bahwa konstruksi realitas adalah proses di mana informasi diseleksi, disusun, dan disajikan sehingga membentuk pandangan bersama, dengan demikian, media tidak hanya merefleksikan kenyataan, tetapi juga terlibat aktif dalam membangun makna di benak audiens.
“Selain memilih isu, media juga menentukan sudut pandang lewat framing. Pilihan kata, gambar pendukung, serta narasi tertentu akan mengarahkan audiens pada interpretasi spesifik. Setiap kerangka tersebut menciptakan makna yang berbeda dan memengaruhi respons emosional serta sikap publik,” kata dosen Program Studi Ilmu Komunikasi ini.
Lebih lanjut, Tommy mengungkapkan bahwa kemunculan media sosial menghadirkan realitas yang terfragmentasi dalam ribuan komunitas daring. Setiap individu dapat memilih algoritma yang menyesuaikan konten dengan preferensi mereka, menciptakan “filter bubble.” “Akibatnya, persepsi realitas menjadi semakin beragam dan terkotak-kotak sesuai kelompok kepentingan. Sementara informasi positif dan kritis dapat menyebar lebih cepat, disinformasi dan polarisasi pun ikut melonjak,” tegasnya.
Literasi media menjadi kunci agar masyarakat mampu memilah konten kredibel dari yang menyesatkan. Keterampilan kritis diperlukan untuk mengecek sumber, memahami framing, dan mengenali bias. “Program edukasi di sekolah dan pelatihan komunitas dapat memperkuat kesadaran. Dengan literasi media, audiens tidak lagi menjadi objek pasif, melainkan partisipan aktif dalam konstruksi realitas yang lebih adil dan berimbang,” tutupnya.