Oleh: Dr. Mukhijab, M.A., Dosen Program Studi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta
Nic Newman dan Federica Cherubini dalam laporan Journalism, Media, and Technology Trends and Predictions 2025 yang diterbitkan Reuters Institute pada 9 Januari 2025 menyajikan potret masa depan jurnalisme global melalui survei terhadap 326 pemimpin media digital dari 51 negara. Temuan mereka memperlihatkan bahwa media kian bergantung pada ekosistem digital, namun pada saat yang sama semakin rapuh secara ekonomi.
Ketergantungan pada platform teknologi besar, penurunan kepercayaan publik yang kian meluas, serta rendahnya kemauan audiens untuk membayar berita daring menjadi tekanan nyata yang menggerus stabilitas industri. Badai perubahan teknologi dalam dua dekade terakhir telah memaksa banyak perusahaan media melakukan pemutusan hubungan kerja massal, menutup ruang redaksi, dan menyusutkan kapasitas produksi.
Hasil survei tersebut menunjukkan kontradiksi yang mencerminkan kegelisahan industri. Sebagian pemimpin media memang melihat peluang pertumbuhan trafik digital seiring meningkatnya ketegangan politik global, sebagaimana terlihat dalam lonjakan konsumsi berita pada masa kontroversi kebijakan Presiden Trump di Amerika Serikat. Namun optimisme itu beriringan dengan kecemasan yang lebih dalam mengenai masa depan jurnalisme.
Meskipun sebagian responden masih yakin bahwa jurnalisme memiliki tempat setelah 2025, banyak pula yang menilai ancaman terbesar bukan semata-mata berasal dari kecanggihan teknologi, melainkan dari polarisasi politik, kriminalisasi jurnalis, serta melemahnya perlindungan terhadap kebebasan pers. Di sisi lain, mayoritas responden menyatakan pesimis bahwa jurnalisme dapat berkembang di tengah pertumbuhan konten buatan kecerdasan artifisial yang semakin mendominasi lanskap informasi.
Persepsi bahwa AI merupakan ancaman terhadap jurnalisme tak lepas dari perubahan struktural yang terjadi sejak hadirnya media sosial. Teknologi digital tidak hanya mengubah pola konsumsi berita, tetapi juga memindahkan basis pembaca, pemirsa, dan pengiklan dari media konvensional ke platform seperti Facebook, Instagram, YouTube, dan TikTok. Ketika kecerdasan artifisial kemudian berkembang pesat, ancaman tersebut menjadi berlipat. AI bukan lagi sekadar alat bantu produksi berita; ia menjadi produsen konten itu sendiri. Model bahasa besar mampu menyusun teks informatif, analitis, atau naratif dengan kecepatan dan keluwesan yang tidak mungkin dicapai manusia.
Seperti diuraikan oleh EJ Haas dari University of Missouri dalam tulisannya "How Journalism Can Survive AI?", publik yang terbiasa mengonsumsi berita melalui media tradisional kini mulai beralih langsung ke chatbot dan platform AI untuk memperoleh informasi secara instan. Dalam kondisi demikian, jurnalisme kehilangan keunggulan temporalnya, sementara elemen nilai tambahnya semakin sulit dipertahankan.
Di tengah tantangan tersebut, sebagian akademisi dan praktisi menilai bahwa jurnalisme tidak perlu bertarung di medan yang sama dengan kecerdasan artifisial. Jurnalisme, menurut mereka, justru harus kembali ke kekuatan humanistiknya: pengalaman, kehadiran fisik di lapangan, kemampuan membangun konteks, serta keberanian moral dalam menyuarakan kebenaran yang sering kali tak nyaman.
Dalam diskursus tentang alternatif model penulisan, Jurnalisme Gonzo, yang dipopulerkan Hunter S. Thompson pada era 1970-an, kembali mengemuka sebagai strategi mempertahankan ruang manusia dalam produksi narasi. Pendekatan ini menempatkan jurnalis sebagai subjek yang terlibat langsung dalam peristiwa, menghadirkan kombinasi antara fakta, pengalaman personal, satir, dan refleksi emosional. Subjektivitas yang terkelola menjadi cara untuk membongkar realitas yang tidak selalu dapat ditangkap melalui pendekatan objektif tradisional.
Di Indonesia, tradisi naratif yang bersinggungan dengan Jurnalisme Gonzo dapat ditemukan dalam sejumlah liputan mendalam Majalah Tempo yang sering menyoroti “sisi lain” sebuah peristiwa. Namun tekanan eksternal, baik dari kekuatan politik maupun dari mereka yang merasa tersinggung oleh liputan investigatif, kerap membuat dimensi kritik dan satire semakin berkurang.
Harian Kompas menempuh pendekatan berbeda dengan menonjolkan kedalaman informasi, analisis komprehensif, dan narasi yang memikat dalam kerangka soft news. Meskipun demikian, komitmennya terhadap prinsip jurnalisme tradisional terkadang membuat sebagian pembaca berharap akan keberanian editorial yang lebih eksplisit dalam menampilkan kritik sosial.
Pada akhirnya, perdebatan mengenai masa depan jurnalisme pada era AI tidak dapat dijawab dengan membandingkan kemampuan manusia dan mesin dalam memproduksi teks. Jurnalisme tidak akan bertahan dengan cara memenangkan kompetisi kecepatan atau efisiensi yang jelas-jelas dikuasai AI. Ia hanya dapat bertahan melalui penegasan kembali nilai-nilai yang tidak dapat ditiru algoritma: kedalaman pengalaman manusia, intuisi, empati, skeptisisme profesional, serta keberanian untuk mencari dan menyuarakan kebenaran, sekalipun kebenaran itu sulit diterima.
Dalam rangka memperingati Hari Jurnalis Internasional, refleksi ini menjadi pengingat bahwa masa depan jurnalisme ditentukan bukan oleh teknologi yang semakin cerdas, tetapi oleh manusia yang tetap memilih untuk berdiri teguh menghadapi derasnya arus informasi.