Dalam khutbah Jumat yang diselenggarakan di Religious Center Widya Nusantara, Kampus Terpadu Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta pada Jumat (25/7), bertindak sebagai Khatib adalah Dr. Murdoko, S.H., M.H., menyampaikan pesan penting tentang makna dan urgensi istiqomah atau keteguhan dalam menjalankan agama. Khutbah ini berjudul “Al-Istiqâmah Al-Haqqah” atau dalam Bahasa Indonesia berarti "Istiqomah yang Benar".
Istiqomah, sebagaimana dijelaskan dalam khutbah tersebut, bukan sekadar pengakuan iman secara lisan, melainkan sebuah prinsip hidup yang harus diwujudkan dalam hati dan amal perbuatan. Rasulullah SAW bersabda, “Katakanlah, ‘Aku beriman kepada Allah,’ kemudian beristiqomahlah.” (HR. Muslim).
Dr. Murdoko menjelaskan bahwa istiqomah memiliki tiga bentuk yang kemudian secara rinci disampaikan antara lain: istiqomah dengan lisan, atau pengakuan iman yang benar. Kemudian istiqomah dengan hati dan anggota badan, atau komitmen untuk terus dalam ketaatan. Dan terakhir adalah istiqomah di atas tauhid, atau mengenal dan menyembah Allah semata, tanpa menyekutukan-Nya.
Istiqomah, menurut Dr. Murdoko, bukan semata pengakuan yang tidak ditopang oleh komitmen hati dan tindakan nyata. Bahkan Allah mencela kaum yang hanya mengaku istiqomah tanpa bukti amaliyah yang mendukung.
"Dalam situasi fitnah dan ujian yang mengelilingi manusia, istiqomah menjadi seperti menggenggam bara api. Namun, Allah tidak meninggalkan hamba-Nya tanpa petunjuk. Dalam QS. Fushshilat ayat 6, Allah memerintahkan umat manusia untuk tetap pada jalan yang lurus dan memohon ampunan-Nya," ujar Dr. Murdoko yang juga Dosen Program Studi Hukum Fakultas Hukum ini.
Lebih jauh, khutbah ini juga menyoroti pentingnya keikhlasan dalam setiap amal. Tidak sedikit amal yang ringan di mata manusia, tetapi bernilai besar di sisi Allah karena dilandasi keikhlasan. Sebaliknya, amal besar bisa menjadi sia-sia jika tidak disertai niat yang tulus. Diceritakan pula kisah-kisah inspiratif dari hadits, seperti seorang wanita miskin yang masuk surga karena berbagi kurma kepada anak-anaknya, dan seorang lelaki yang memberi minum anjing lalu Allah memberinya surga sebagai balasan.
"Bahkan disebutkan, di Hari Kiamat, catatan amal seorang hamba yang terdiri dari 99 buku penuh dosa akan dikalahkan oleh satu kartu kecil berisi syahadat “La ilaha illallah”, karena keimanan dan keikhlasan yang tulus di dalamnya," ujar Dr. Murdoko.
Khutbah ini juga mengingatkan bahwa menyeru pada kebaikan tanpa melaksanakannya adalah celaan besar dalam Islam. QS. Al-Baqarah ayat 44 menyindir mereka yang hanya mampu berkata, namun lalai berbuat. Maka integritas dan kesesuaian antara ucapan dan tindakan menjadi bagian tak terpisahkan dari istiqomah yang benar.
"Nilailah manusia dari amalnya dan tinggalkan perkataannya. Karena perkataan bisa dibenarkan atau didustakan oleh amal," ucapnya.
Khutbah ditutup dengan ajakan untuk memperbanyak amal shaleh dan doa agar Allah senantiasa memberi taufiq dan keikhlasan dalam beribadah. Kehidupan dunia sangat singkat jika dibandingkan dengan kehidupan akhirat. Maka jangan remehkan kebaikan sekecil apapun, karena boleh jadi amalan ringan yang dilakukan dengan ikhlas itulah yang menjadi sebab masuknya seseorang ke surga.
Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Mulk ayat 2: “(Dialah) yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.”**
Semoga khutbah ini menjadi pengingat dan motivasi bagi seluruh kaum Muslimin untuk terus memperbaiki diri, memperkuat keimanan, dan menjaga keikhlasan dalam setiap amal. Karena istiqomah bukan hanya jalan hidup yang benar, tapi juga satu-satunya jalan menuju keridhaan Allah dan keselamatan akhirat.