Home
news
Dr. Jumadi: Pertumbuhan Ekonomi 2026 Tidak Cukup Andalkan Konsumsi, Daerah Harus Ubah Strategi

Dr. Jumadi: Pertumbuhan Ekonomi 2026 Tidak Cukup Andalkan Konsumsi, Daerah Harus Ubah Strategi

news Selasa, 2025-12-16 - 14:02:49 WIB

Dr. Jumadi: Pertumbuhan Ekonomi 2026 Tidak Cukup Andalkan Konsumsi, Daerah Harus Ubah Strategi

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 tidak dapat lagi bergantung pada konsumsi rumah tangga semata. Transformasi sektor unggulan serta pengendalian inflasi dinilai menjadi faktor kunci dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.

Hal tersebut disampaikan Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta, Dr. Jumadi, S.E., M.M., saat menjadi pembicara dalam Seminar Outlook Indonesia 2026 yang digelar di Auditorium Gedung Piwulangan, Kampus Terpadu UWM, Selasa (16/12).

Menurut Dr. Jumadi, tantangan ekonomi ke depan tidak lagi bersifat siklikal, melainkan struktural. Oleh karena itu, pemerintah pusat dan daerah dituntut mampu merumuskan strategi pembangunan yang adaptif terhadap dinamika global maupun domestik.

“Jika Indonesia ingin menjaga momentum pertumbuhan ekonomi 2026, kita tidak bisa lagi hanya mengandalkan konsumsi rumah tangga. Transformasi sektor unggulan dan stabilitas inflasi menjadi kunci yang tak bisa ditawar,” tegasnya.

Ia menjelaskan bahwa proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 sangat dipengaruhi oleh kemampuan menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan pengendalian inflasi. Ketidakpastian global, tekanan harga pangan dan energi, serta dinamika geopolitik menjadi faktor eksternal yang harus diantisipasi secara serius.

“Stabilitas inflasi bukan hanya soal angka, tetapi juga soal kepercayaan. Ketika inflasi terjaga, dunia usaha berani melakukan ekspansi dan masyarakat memiliki kepastian daya beli,” ujarnya.

Dalam konteks pembangunan daerah, Dr. Jumadi menyoroti Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sebagai wilayah yang perlu melakukan penyesuaian strategi ekonomi. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi DIY pada periode 2025–2026 tidak cukup hanya ditopang oleh sektor pendidikan dan konsumsi, tetapi perlu diperkuat melalui pengembangan sektor pariwisata yang lebih terarah dan bernilai tambah.

Salah satu strategi yang didorong adalah pengembangan DIY sebagai destinasi wisata ramah muslim. Konsep ini dinilai memiliki potensi untuk memperluas pasar wisata, meningkatkan lama tinggal wisatawan, serta menciptakan efek berganda bagi pelaku UMKM lokal.

“Wisata ramah muslim bukan berarti eksklusif. Justru ini peluang yang bersifat inklusif dan mampu memberikan nilai ekonomi yang lebih besar tanpa menghilangkan kearifan lokal Yogyakarta,” katanya.

Seminar Outlook Indonesia 2026 merupakan bagian dari komitmen UWM dalam menghadirkan ruang diskusi strategis antara akademisi, mahasiswa, dan pemangku kepentingan daerah guna membaca arah kebijakan ekonomi nasional dan regional secara kritis dan berbasis data.

Kegiatan tersebut ditutup dengan diskusi interaktif yang menekankan pentingnya sinergi antara kebijakan ekonomi makro, inovasi daerah, serta kesiapan sumber daya manusia dalam menghadapi dinamika perekonomian Indonesia menuju 2026.


Share Berita