Oleh: Nisfatul Izzah, S.E., M.A., Dosen Program Studi Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta, serta Periset Akuntansi NGO & Akuntansi UMKM dan Akuntansi Budaya Kewidyamataraman
Aroma harum nasi bertumpu santan, berpadu wangi daun salam, selalu menghidupkan ingatan kolektif tentang perayaan Sekaten di pelataran Masjid Gedhe Kauaman Yogyakarta. Di atas sepiring nasi dengan ubo rampe (kelengkapan pakem) berupa suwiran ayam kampung, telur dadar tipis, sambal goreng krecek, sambal pecel kering, taburan kedelai hitam, kedelai putih dan kacang tanah goreng, serta rese (rebon kering) dimata masyarakat Yogyakarta dinilai sebagai, panganan ritual penyambut maulid nabi bernama sekul gurih. Namun, di balik keriuhan perayaan tersebut, sepiring nasi gurih saat ini sedang mementaskan pergulatan budaya dan ekonomi yang sunyi di tengah gempuran zaman.
Sekaten sendiri merupakan perayaan historis-religius berbasis budaya. Sebuah gagasan Wali Songo untuk menyebarkan syiar Islam yang berakar dari kata syahadat (Syahadatain). Sekaten di Yogyakarta memiliki ciri khas yang ditandai dengan keluarnya dua set gamelan Pusaka Keraton Yogyakarta “Kyai Guntur Madu dan Kyai Nagawilag” yang ditabuh di halaman Masjid Gedhe Kauman.
Tradisi lokal masayarakat ditengah gema gamelan mengaitkan dengan konsumsi nasi sekaten dengan mitos "awet muda". Makna ini penting diluruskan supaya tidak terjebak pengkultusan magis atau syirik. Esensi sejati "awet muda" bukanlah khasiat mistis bulir nasinya, melainkan simbol kegembiraan umat atas lahirnya Nabi Muhammad SAW. Rasa syukur, silaturahmi hangat antar warga ditengah upacara yang belum mesti ketemu setahun sekali, terbesit doa tulus yang semuanya bermuara dan mengharap berkah hanya kepada Allah SWT supaya menghadirkan ketenangan jiwa dan memancarkan kebahagiaan batin.
Bagi penikmat loyal, sepiring nasi gurih adalah lorong waktu nostalgia masa kecil saat digandeng kakek-nenek menembus kerumunan Sekaten. Kini, generasi tua mencoba mengenalkan anak-cucu pada akar tradisinya. Namun, realitas memercikkan ironi. Lidah generasi muda telanjur termodifikasi oleh kepungan junk food yang serba instan, membuat cita rasa autentik nasi gurih terasa asing. Kontras tajam justru ditunjukkan beberapa wisatawan asing yang singgah, meraka kerap menunjukkan antusiasme tinggi mencicipi nasi gurih sebagai mahakarya gastronomi yang sarat warisan kultural.
Pergulatan rasa juga menghadapi pergeseran fisik. Wadah nasi gurih jaman dulu menggunakan tekor dan pincuk daun pisang kini berganti rupa menjadi lembaran kertas minyak cokelat yang dingin. Tenda bambu kian tersisih oleh barisan tenda besi bongkar-pasang yang kaku. Perubahan lanskap fisik ini adalah simbol nyata bagaimana logika efisiensi akuntansi modern mendikte ruang budaya kita. Kondisi ini diperparah lagi dengan hilangnya denyut Pesta Rakyat pasar malam yang ditiadakan dari Alun-alun Utara. Tanpa adanya wahana komidi putar, kapal otok-otok, dan gemerlap lampu malam lagi. Jualan nasi gurih kehilangan magnitudo penarik massanya, terutama dari kalangan Generasi Z yang lebih memilih ruang-ruang artifisial kafe modern.
Bila dipotret dengan kacamata akuntansi konvensional Barat, adaptasi kertas minyak atau sepinya pembeli hanya dianggap sekadar kalkulasi efisiensi biaya (cost efficiency) dan penurunan permintaan (decreasing demand). Selama ini akuntansi modern menempatkan laba material di atas segalanya, namun buta memotret nilai tak berwujud (intangible assets) seperti degradasi modal sosial dan pudarnya kecintaan pada tradisi leluhur.
Pedagang nasi gurih Sekaten saat ini sangat perlu menjungkirbalikkan logika kapitalistik melalui prinsip ekonomi Jawa, seperti istilah “bathi sathak, bathi sanak (untung sedikit namun menambah persaudaraan). Hubungan persaudaraan (bathi sanak) dari kehangatan interaksi diletakkan jauh lebih tinggi di atas nilai kalkulator. Rekonstruksi realitas ini membawa institusi pendidikan seperti Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta sebagai bentuk urgensi yang dituangkan dalam kajian-kajian ilmiah Akuntansi Budaya. UWM melihat praktik ini sebagai wujud “akuntansi alternatif” dengan model pelaporan keuangan yang memperhitungan kemaslahatan, rasa syukur, dan nilai spiritual manusia tidak sekedar nominal keuangan belaka.
Pada titik makro, mengutamakan persaudaraan adalah manifestasi nyata dari falsafah luhur Memayu Hayuning Bawana untuk komitmen memperindah dunia dan menjaga keselarasan semesta. Agar nilai luhur ini mencapai keberlanjutan usaha (going concern), dibutuhkan tindakan nyata dari pemangku kebijakan, termasuk dinas kebudayaan dan pariwisata untuk mewadahi ekosistem Sekatenan dan usaha kuliner nusantara lainnya agar informasinya tersebar luas kepada Generasi Z.
Terobosan konkretnya dapat berupa pengintegrasian budaya kuliner tradisional ke dalam kurikulum pendidikan formal melalui mata pelajaran Bahasa Jawa sebagai laboratoriumnya. Momentum ini sekaligus menjadi panggilan terbuka bagi para food vlogger dan konten kreator untuk menjadikan momen Sekaten sebagai panggung unjuk konten kreatif dan aksi kolektif menyelamatkan warisan pangan lokal di ruang digital. Belajar dari sepiring nasi gurih Sekaten, kita diingatkan kembali bahwa ekonomi yang sehat adalah ekonomi yang memiliki jiwa; yang paling pandai merawat kemanusiaan dan memperindah tatanan kehidupan semesta.