Bagi generasi yang tumbuh di era 1990-an dan sebelumnya, pertanyaan “wis mangan durung?” atau “wis madhang tah?” tentu tidak asing di telinga mereka saat bertandang ke rumah teman atau saudaranya. Pertanyaan tersebut kerap dilontarkan oleh orang-orang tua bahkan sebelum mereka bercengkerama lebih lanjut. Hal ini disampaikan oleh Puji Qomariyah yang merupakan Wakil Rektor (WR) III Universitas Widya Mataram (UWM) dalam acara Pameran Tunggal Karya Luddy Astaghis “Wes Dho Mangan Durung?” di Jogja Gallery, Alun-Alun Utara, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada Rabu (10/1/2024). Pameran ini akan berlangsung pada 10 - 25 Januari 2024.
Lebih lanjut, Puji mengemukakan bahwa madhang secara leksikal bisa diartikan makan. Namun dalam gramatika kata tersebut bisa juga diartikan secara othak-athik gathuk “madhang” sebagai agar menjadi padhang, agar menjadi terang. Kata tersebut sering digunakan juga sebagai ungkapan bercanda dalam percakapan sehari-hari “kana mangan sik, ben padhang pikirmu” ~ sana makan dulu, biar terang pikiranmu.
“Tentang mangan/madhang/manre/kuman/tuang/mande sebagai sebuah ruang dialog berlaku umum hampir di berbagai belahan dunia. Cesar Chavez seorang Meksiko-Amerika yang dikenal sebagai aktivis hak-hak sipil Latino Amerika, dan dijadikan tokoh panutan gerakan buruh Amerika memberikan pernyataan simpatik tentang makan, makanan, dan relasi antarmanusia,” kata dosen Program Studi (Prodi) Sosiologi ini.
“Wis mangan durung? Wis madhang tah? Jika Anda masih menjumpai pertanyaan tersebut, pastikan Anda menerimanya dengan tulus bahkan ketika Anda sedang kenyang sekalipun untuk sekedar mencicipi panganan yang disajikan. Percayalah, saat itu Anda berada dalam masyarakat yang masih menjunjung nilai-nilai kebersamaan, penghormatan, dan juga kemanusiaan. Dan selayaknya Anda berbahagia, karena Anda berada dalam lingkungan yang masih menjunjung tinggi jaring pengaman sosial (social safety nett) sebagai upaya menyalamatkan kehidupan ini,” tutupnya.
Humas@UWM8