Home
news
Walikota Jogja Ajak Masyarakat Menjaga Lingkungan untuk Kehidupan Masa Depan

Walikota Jogja Ajak Masyarakat Menjaga Lingkungan untuk Kehidupan Masa Depan


Sun, 2021-06-06 - 11:11:30 WIB

Pengelolaan sampah di tempat umum dan lokasi wisata mendapatkan perhatian khusus dari Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta sehingga tidak muncul sebagai masalah baru di tengah pandemi Covid-19. Lingkungan kita adalah kehidupan kita, masa depan kita dan anak-anak kita. Pernyataan itu diungkapkan Drs. Heroe Poerwadi, MA Wakil Walikota Yogyakarta periode 2017 – 2022 sebagai narasumber dalam perbincangan di Studio Podcast Kutunggu di Pojok Ngasem Universitas Widya Mataram (UWM), Jum’at (4/6/2021).

Podcast episode #017 t mengupas tema Membaca Problem Lingkungan di Jogja, Apa Solusinya? yang di pandu host, Puji Qomariyah S.Sos., M.Si (PQ). Dalam perbincangannya Heroe menyampaikan, berbagai upaya sudah dilakukan oleh pemerintah dalam mengatasi dampak pandemi Covid-19. Salah satunya dengan membuat guidance yang bertujuan membangun kebersamaan dan memahami persoalan yang dihadapi. Di samping itu, langkah bersama seperti menyelesaikan kasus penyebaran Covid-19 dan membuat aturan-aturan baru juga sudah dilaksanakan.

Berkaitan dengan Hari Lingkungan Hidup Sedunia pada 5 Juni 2021, Wakil Walikota Yogyakarta itu menuturkan, di tengah pandemi pemerintah menetapkan aturan dalam pengelolaan sampah dari berbagai macam Alat Pelindung Diri (APD) baik di puskesmas maupun rumah sakit. Salah satunya sampah APD tidak dicampur dengan sampah yang umum. Fasilitas tempat sampah di tempat umum seperti di Malioboro juga dikurangi.

“Kecenderungan ketika dikasih tempat sampah, justru disanalah sampah menumpuk, dan tetap saja orang membuang sampah disitu. Dengan mengurangi tempat sampah harapannya orang tidak membuang sampah disana. Susah membuang sampah dengan maksud supaya orang tidak membuang sampah,” terang Heroe.

Reporter SCTV Jakarta tahun 1997 itu mengatakan, masyarakat di Jogja harus menerapkan 5M protokol kesehatan di semua tempat. Destinasi wisata Malioboro diharapkan menjadi referensi bagi wisata lain dalam menerapkan 5M protokol kesehatan dengan melakukan scan barcode setiap masuk Malioboro.

Disisi lain, Ruang Terbuka Hijau (RTH) masih belum optimal diterapkan karena aturan yang mengharuskan luas lahan harus seluas 20 persen dari lahan kota. Hal ini karena Yogyakarta sudah memiliki 45 kelurahan yang sudah cukup padat dan baru mencapai 16 persen lahan yang tersedia sebagai RTH.

Disebutkan, jumlah mahasiswa DIY menjadi penyumbang terbesar kepadatan kota Yogyakarta. Pasalnya, jumlah mahasiswa dari sekitar 119 kampus sudah mencapai 300.000-an. Upaya yang dilakukan oleh kampus maupun kota yaitu dengan memberikan pelayanan agar mahasiswa mendapatkan akses di bidang pendidikan dan kesehatan secara luas.

Pada konteks perhotelan, Heroe menjelaskan bahwa Yogyakarta memiliki sebanyak 625 hotel dari bintang lima hingga home-stay. Pertumbuhan hotel sudah di atur sesuai tata ruang kota yang sudah didesain setiap zonasi pembangunannya. Perhotelan juga harus berlangganan air dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) dan tidak boleh mengambil air tanah. Hal itu untuk menjaga lingkungan agar pertumbuhan hotel tidak menjadi beban bagi air tanah di Yogyakarta.

“Seiring dengan perubahan bandara ke Kulonprogo, maka pola trasportasi sedang kami persiapkan agar semua sistem transportasi publik terintegrasi satu sama lain. Oleh karenanya, kota yang sempit ini harus disediakan transportasi massal yang memadai,” ujarnya.

Dalam closing statement, Heroe mengatakan bumi Yogyakarta adalah bumi kita berpijak dan hidup untuk sehari-hari, akan sangat disayangkan jika bumi kita tidak sehat. Hal yang harus dilakukan adalah membuat penghijauan di bumi Yogyakarta dengan tanaman, dari tanaman yang kecil hingga tanaman besar. Dirinya juga mengajak untuk memanfaatkan air dengan efisien, termasuk memanfaatkan sampah supaya tidak terbuang namun sampah rumah tangga dapat diolah menjadi pupuk dan berbagai macam daur ulang lainnya.

©HumasWidyaMataram


Share Berita


Komentari Berita