Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta menjadi tuan rumah kegiatan “Jangan Buang Ibu Goes to Campus: Deep Talk” yang diselenggarakan pada Selasa (2/6) di Auditorium Piwulangan Kampus Terpadu UWM. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian kampanye edukatif film Jangan Buang Ibu produksi Leo Pictures yang akan tayang serentak di bioskop seluruh Indonesia pada 25 Juni 2026.
Acara tersebut menghadirkan para pemeran film, yakni Erika Carlina dan Dwi Sasono, serta menghadirkan Nona Pooroe Utomo, M.Ed., M.A., Psikolog sebagai psikolog dan Dr. Inge Gunawan, S.E., M.Si., C.M.A. sebagai konselor sekaligus moderator diskusi. Melalui format deep talk, para narasumber mengajak mahasiswa untuk mendiskusikan berbagai persoalan keluarga, hubungan orang tua dan anak, serta pentingnya empati sosial di tengah kehidupan modern.
Program JBI Goes to Campus dirancang sebagai ruang edukatif yang menghubungkan dunia perfilman dengan isu-isu sosial yang dekat dengan kehidupan generasi muda. Selain berbagi perspektif mengenai psikologi keluarga dan relasi orang tua-anak, kegiatan ini juga membahas peran media dan industri kreatif dalam menyampaikan pesan-pesan sosial yang berdampak positif bagi masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, mahasiswa menyaksikan pemutaran trailer film Jangan Buang Ibu. Kegiatan ini menjadi sarana pembelajaran yang mempertemukan aspek seni, komunikasi, psikologi, dan nilai-nilai kemanusiaan dalam satu forum dialog yang interaktif.
Aktor Dwi Sasono mengatakan bahwa film Jangan Buang Ibu bukan sekadar karya hiburan, melainkan sebuah refleksi yang mengajak masyarakat untuk kembali memaknai hubungan dengan orang tua.
"Melalui film ini kami ingin mengingatkan bahwa kasih sayang orang tua, terutama seorang ibu, sering kali baru benar-benar kita sadari ketika waktu telah berlalu. Semoga film ini dapat menjadi ruang refleksi bagi generasi muda untuk lebih menghargai dan membahagiakan orang tua mereka selagi masih memiliki kesempatan," ujar Dwi Sasono.
Sementara itu, Erika Carlina menilai bahwa isu yang diangkat dalam film Jangan Buang Ibu sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. "Banyak anak muda yang sibuk mengejar mimpi dan karier, tetapi terkadang lupa meluangkan waktu untuk orang tua. Padahal perhatian sederhana, komunikasi yang baik, dan kehadiran kita memiliki arti yang sangat besar bagi mereka," tuturnya.
Nona Poeroe Utomo, Ed.M., M.A., Psikolog menjelaskan bahwa hubungan yang sehat antara orang tua dan anak tidak terbentuk secara instan, melainkan melalui komunikasi yang terbuka dan saling memahami. "Sering kali konflik dalam keluarga muncul bukan karena kurangnya kasih sayang, tetapi karena kurangnya komunikasi. Oleh karena itu, penting bagi setiap anggota keluarga untuk belajar mendengarkan, memahami perspektif satu sama lain, dan membangun kedekatan emosional sejak dini," jelasnya.
Rektor UWM, Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec., menyambut baik terselenggaranya kegiatan tersebut di lingkungan kampus. Menurutnya, perguruan tinggi tidak hanya menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang pembentukan karakter dan kepekaan sosial mahasiswa.
“Melalui kegiatan seperti ini, mahasiswa dapat belajar memahami persoalan keluarga, nilai penghormatan kepada orang tua, serta pentingnya empati dalam kehidupan bermasyarakat. Kehadiran insan perfilman dan psikolog di kampus menjadi sarana yang efektif untuk memperluas wawasan mahasiswa melalui pendekatan yang dekat dengan generasi muda,” ujarnya.
Film Jangan Buang Ibu sendiri diproduksi oleh Leo Pictures, diproduseri Agung Saputra, diadaptasi dari novel karya Wahyu Derapriyangga, dan disutradarai oleh Hadrah Daeng Ratu. Film tersebut mengangkat kisah perjuangan seorang ibu tunggal bernama Ristiana yang dengan penuh kasih membesarkan anak-anaknya, namun pada masa tuanya harus menghadapi kenyataan pahit ketika tinggal di panti jompo. Melalui kisah yang emosional dan reflektif, film ini mengajak masyarakat untuk lebih menghargai dan memuliakan orang tua selagi masih bersama keluarga.
Kegiatan "Jangan Buang Ibu Goes to Campus" di UWM diharapkan tidak hanya memperkenalkan film kepada mahasiswa, tetapi juga mendorong lahirnya kesadaran yang lebih kuat tentang pentingnya menjaga hubungan keluarga, menghormati orang tua, dan membangun kepedulian sosial sebagai bagian dari karakter generasi muda Indonesia.