Home
news
UWM dan UMY Berkolaborasi Dukung Inovasi Petani Garam di Kecamatan Kaliori

UWM dan UMY Berkolaborasi Dukung Inovasi Petani Garam di Kecamatan Kaliori

news Jumat, 2025-05-02 - 15:08:15 WIB

Petani garam di Kecamatan Kaliori, Kabupaten Rembang, masih menghadapi tantangan klasik dalam meningkatkan pendapatan akibat fluktuasi harga pasar dan minimnya inovasi pengolahan hasil tambak. Menyikapi persoalan ini, tim dosen dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dan Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta menginisiasi kegiatan pengabdian masyarakat bertajuk “Diversifikasi Produk Olahan Garam sebagai Solusi Alternatif Peningkatan Pendapatan Petani Garam” di Desa Tambak Agung, Kecamatan Kaliori. Pengabdian ini dilaksanakan dari bulan Februari hingga Mei 2025.

Kegiatan ini diketuai  oleh Dr. Aris Slamet Widodo, dosen Program Studi Agribisnis UMY, bersama Puji Qomariyah, dosen Sosiologi UWM, yang menggandeng Koperasi Tani Sari Makmur sebagai mitra lokal. Koperasi ini dikenal aktif dalam pengolahan hasil pertanian dan produksi garam rakyat di wilayah Rembang.

Program ini menyasar upaya pendampingan petani garam untuk menciptakan nilai tambah melalui diversifikasi produk olahan garam. Beragam pelatihan telah dilakukan, mulai dari pembuatan bombs salt, eco detergent, sabun cuci tangan, vanilla sea salt, cabe garam, bumbu tabur bangkok, sea salt candy, hingga garam rebus. Produk-produk ini memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dan potensi pasar yang luas. Meskipun sampai hari ini produk yang dihasilkan baru garam industri, garam meja dan garam kosmetik.

Dr. Aris Slamet Widodo menjelaskan, “Diversifikasi produk olahan garam ini tidak hanya meningkatkan nilai jual, tetapi juga membuka peluang pasar baru bagi petani. Dengan pendekatan kolaboratif, kami berharap dapat memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat pesisir Rembang. Dan Program ini tidak hanya fokus pada pelatihan teknis, tetapi juga memberikan edukasi mengenai strategi pemasaran, desain kemasan menarik, hingga pengelolaan usaha berbasis kelompok agar petani mampu bersaing secara kolektif,"

Pendekatan yang digunakan bersifat partisipatif dan memberdayakan, di mana petani dilibatkan sejak tahap perencanaan, pelatihan, hingga evaluasi hasil. Sementara itu, Puji Qomariyah menambahkan bahwa aspek sosial dan budaya lokal juga menjadi perhatian penting agar inovasi produk tetap selaras dengan karakter masyarakat. Dalam Aspek sosiologis dalam program ini mendorong sinergi antar kelompok tani dan pelaku usaha, sehingga inovasi dapat dikembangkan secara berkelanjutan.

Sementara Ketua Koperasi Tani Sari Makmur, Dias Eko Erry Akhmadi sebagai mitra lokal menyambut positif program ini, "Kami berharap pelatihan dan pendampingan ini menjadi langkah awal yang berkelanjutan agar petani garam kami tidak hanya bergantung pada garam mentah, tetapi bisa naik kelas melalui inovasi," ujarnya.

Melalui program ini, diharapkan para petani di Kaliori mampu meningkatkan pendapatan secara berkelanjutan, memperluas jaringan pemasaran, serta memperkuat posisi ekonomi desa berbasis potensi lokal.

Kegiatan pengabdian ini diharapkan dapat menjadi model pemberdayaan petani garam di daerah pesisir, sekaligus berkontribusi pada pencapaian SDGs (Tujuan Pembangunan Berkelanjutan) nomor 1 (Tanpa Kemiskinan) dan nomor 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi).

@Humas


Share Berita