Program Studi Arsitektur Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Widya Mataram (UWM) mengadakan kuliah umum bertema “Struktur dan Arsitektur High Rise Building” pada Rabu (13/11) di Kampus Terpadu UWM yang dihadiri oleh sekitar 50 mahasiswa dan dosen. Kegiatan ini menghadirkan Ir. Jimmy S. Juana, MSAE., seorang praktisi bangunan gedung dan Direktur Pengembangan Rating Greenship GBCI, sebagai pembicara utama yang berbagi pengalaman dan pengetahuan mendalam mengenai berbagai aspek penting dalam merancang dan membangun gedung bertingkat tinggi.
Dalam pemaparannya, Jimmy menekankan pentingnya proses perancangan yang menyeluruh, mulai dari tahap konsep awal hingga dokumentasi tender dan pengawasan berkala dalam konstruksi bangunan tinggi. “Pekerjaan perancangan gedung tinggi melibatkan tahapan yang kompleks dan berkesinambungan, di mana semua aspek teknis, regulasi, dan keselamatan harus terintegrasi dengan baik agar tercapai kualitas dan keandalan bangunan yang optimal,” ungkapnya.
Selain itu, Jimmy juga menjelaskan tentang standar keandalan bangunan yang meliputi keselamatan, kesehatan, kenyamanan, dan kemudahan akses. Standar ini, menurutnya, sangat krusial dalam mendukung keamanan struktur dan keselamatan penghuni, termasuk upaya mitigasi kondisi darurat serta proteksi kebakaran. “Setiap bangunan tinggi harus dirancang dengan ketahanan terhadap risiko, baik dari sisi struktural maupun operasional, demi keselamatan dan kenyamanan penghuninya,” tambahnya.
Poin lainnya yang dibahas dalam kuliah umum ini adalah integrasi sistem bangunan, di mana elemen-elemen seperti arsitektur, elektrikal, mekanikal, ventilasi, dan plumbing harus dipadukan secara optimal untuk meningkatkan efisiensi dan konservasi energi. Jimmy menyoroti pentingnya nilai Overall Thermal Transfer Value (OTTV) untuk menekan konsumsi energi dan menjaga kualitas lingkungan bangunan.
Jimmy juga menekankan pentingnya fungsi bangunan, terutama dalam menentukan ruang-ruang untuk berbagai kegunaan seperti kantor, hotel, dan apartemen. Menurutnya, fungsi ini sangat mempengaruhi desain, mulai dari jarak antar lantai, luas ruang sewa, hingga penempatan core bangunan. “Penyesuaian desain berdasarkan fungsi bangunan memastikan penggunaan ruang yang lebih efisien dan ekonomis,” jelas Jimmy.
Tidak kalah penting, aspek sistem keamanan dan pengolahan limbah juga menjadi fokus diskusi. Jimmy menggarisbawahi bahwa bangunan tinggi harus memiliki sistem keamanan dan pengolahan limbah yang optimal, khususnya bagi limbah non-organik dan bahan berbahaya (B3), guna mendukung keberlanjutan lingkungan. Keberadaan refuge floor dan proteksi tambahan untuk kondisi darurat juga dipaparkan sebagai langkah penting dalam memastikan perlindungan bagi penghuni gedung.
Kuliah umum ini memberi wawasan penting bagi mahasiswa dalam memahami konsep, regulasi, dan praktik terkini dalam arsitektur bangunan tinggi, serta mendalami kontribusi arsitektur terhadap keselamatan dan keberlanjutan lingkungan perkotaan.

©HumasUWM