Mengawali tayangan perdana podcast-nya, kanal “Kutunggu di Pojok Ngasem” menghadirkan Rektor Universitas Widya Mataram (UWM) Prof. Dr. Edy Suandi Hamid. M.Ec dalam obrolan bertema “Tetap Optimis di Saat Pandemi”.
Dalam obrolan santai sosok yang pernah memimpin Universitas Islam Indonesia (UII) dua periode dan saat ini menjadi salah satu anggota Parampara Praja DIY memaparkan kiat-kiat untuk tetap optimis menghadapi pandemi COVID-19 ini dalam perikehidupan dengan tetap mematuhi protokol kesehatan.
Kanal “Kutunggu di Pojok Ngasem (KPN)” sendiri merupakan program yang dipersembahkan Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta untuk memperbincangkan segala hal dalam dinamika multi-arah/multi-aras bagi tumbuhkembangnya dialog-dialektika di masyarakat.
“Kanal Kutunggu di Pojok Ngasem mencakup dua hal dalam penyajiannya: podcast dan vlog dengan beragam konten di dalamnya. Podcast dan vlog dijadwalkan bergantian setiap minggunya,” papar host yang juga menjadi sutradara-produser KPN Puji Qomariyah, Rabu (21/10) siang.
Puji menambahkan melengkapi kedua program tersebut kanal KPN dilengkapi dengan program solo artwork exhibition (SAE) sebuah program presentasi karya seniman-perupa dalam ukuran kecil-sedang pada dinding studio.
“Hingga saat ini sudah mengundang 20 seniman-perupa lintas generasi, lintas disiplin seni, dengan membuka seluas-luasnya bagi seniman-perupa muda dan seniman nonakademik. Terdapat 6 (enam) seniman-perupa muda, 5 (lima) seniman nonakademik, dan 9 seniman-perupa eksperimental. Presentasi ke-20 seniman-perupa sudah terjadwal berbarengan dengan jadwal podcast per 2 mingguan,” imbuh Puji.
Rektor UWM Edy Suandi Hamid menyampaikan, sebagai kampus yang berbasis budaya, aspek-aspek yang terkait budaya tangible-intangible harus dimunculkan. Edy berharap periode saat ini dan selanjutnya hal tersebut bukan hanya sebagai slogan, tetapi betul-betul terimplementasi dalam program-program riil untuk membuktikan bahwa UWM peduli pada aspek-aspek kebudayaan -bukan hanya seni saja- namun budaya dalam arti yang luas terkait dengan pola pikir, pola tindak, pola perasaan bermasyarakat sesuai budaya yang hidup dan berkembang utamanya di DIY.
“Kita tidak mungkin bekerja sendirian. Kita bisa melibatkan pihak-pihak di luar untuk bekerjasama dengan kita didalam berkesenian-berkebudayaan ini. Manusia yang berbudaya yang dinamis itu ada saling ketergantungan, tidak merasa hebat sendiri, mendengarkan orang lain, dan bekerjasama dengan yang lain. (Paling dekat) di sekitar Pasar Ngasem ini banyak seniman,” jelas Rektor UWM Edy Suandi Hamid, Rabu (21/10).
Selaku Rektor UWM, Edy mengapresiasi kanal Kutunggu di Pojok Ngasem dengan berbagai derivasi acaranya dan akan men-support semua kegiatan ini yang diyakinnya sangat bermanfaat.
“Pesan saya, mudah-mudahan dengan berbagai program-rencana, ide-ide, kolaborasi, tidak hanya berhenti pada tataran wacana. Tapi bagaimana (kemudian) terimplementasi dalam berbagai program riil yang bermanfaat bagi semuanya,” pungkas Edy Suandi Hamid.
Tayangan perdana podcast “Tetap Optimis di Saat Pandemi” dapat dikunjungi pada laman www. http://new.widyamataram.ac.id/ ataupun mengikuti kanal-kanal media sosial instagram @humas.uwm, facebook @Kehumasan WidyaMataram, twitter @humasuwm, dan YouTube @Universitas Widya Mataram dan Kutunggu di Pojok Ngasem.
©HumasWidyaMataram