Perhelatan olah raga terbesar di Asia, Asian Games telah berakhir. Namun masih sangat terasa perjuangan para atlet Indonesia yang berjuang keras sampai pada akhirnya mendapatkan peringkat ke 4 dibawah Negara Korea Selatan, Jepang dan China. Sebagai tuan rumah Indonesia mampu meraih peringkat ke empat dengan perolehan 98 medali: 31 emas, 24 perak dan 43 perunggu. Gempita Asian Games menjadi momen untuk memperkuat persatuan dan kesatuan bagi seluruh negara peserta. Dari situlah, talkshow bertajuk olah raga sebagai energi pemersatu bangsa digelar oleh TVRI Yogyakarta pada Senin (3/9/2018).
Talkshow tersebut menghadirkan beberapa narasumber dari unsur pelaku usaha, KONI, ICMI serta dari Universitas Widya Mataram (UWM). Dalam kesempatan ini Nur Achmad Affandi (Pelaku Usaha) mengatakan bahwa olahraga merupakan instrumen pembangunan dan dapat menyatukan golongan. Sedangkan uang yang beredar selama Asian Games yaitu 54 T dengan keuntungan masyarakat 15%. Oleh karena itu industri dibidang olahraga begitu bagus dan bisa menguntungkan bagi masyarakat. Lebih lanjut, pengelolaan Asian Games yang dikelola oleh pihak swasta dan di pegang oleh Eric Tohir menunjukkan peran swasta penting karena lebih professional.
Prof. Dr. Djoko Pekik Irianto, M.Kes., AIFO., (KONI DIY) mengatakan bahwa pada Asian Games ini Indonesia hanya menetapkan masuk peringkat 10 besar, akan tetapi tahun ini mampu meraih peringkat keempat. Menurut Djoko Pekik, hal tersebut merupakan prestasi yang membanggakan. Dalam memajukan olah raga di Indonesia tidak luput dari 3 pilar yaitu pemerintah pusat (APBN), pemerintah Daerah (APBD) dan peran masyarakat. Ketiga hal itulah yang akan membuat olah raga di Indonesia menjadi lebih baik.
Menurut Akmad (ICMI), pembuatan sistem Information and Technology (IT) dalam tubuh organisasi itu sangat penting. Ahmad juga mengatakan peningkatan prestasi dapat di dukung oleh potensi, bakat, coach bagus, sport sains, sarana dan prasarana serta kompetisi yang berkualitas.
Disisi lain, Cahya Purnama Asri, SE., MM yang merupakan perwakilan dari UWM mengatakan bahwa perlu mempertahankan olah raga yang dinilai baru. Hal tersebut dilakukan supaya bisa masuk di Asian Games yang akan datang dan bahkan di Olimpiade. Misalnya pencak silat, saat ini jadi lumbung pemberi medali emas bagi Indonesia, namun belum banyak diminati bagi Negara lain.®HumasWidyaMataram