Home
news
Syawalan sebagai Refleksi untuk Menjadi Insan Bereputasi

Syawalan sebagai Refleksi untuk Menjadi Insan Bereputasi

news Kamis, 2021-05-20 - 13:47:08 WIB

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Universitas Widya Mataram (UWM) menggelar Syawalan dengan tajuk 2 Tahun Covid-19, Refleksi Diri sebagai Jalan Menjadi Insan Bereputasi. Syawalan virtual melibatkan sivitas akademika Fisipol dan mengundang penceramah Ust. Sihabuddin, S.I.Kom., M.I.Kom.

Dekan Fisipol, Dr. AS Martadani Noor, MA mengatakan syawalan halal bihalal ini menjadi upaya untuk mempererat solidaritas dan soliditas dalam keberagaman adat, ras, suku dan adat. Syawalan kita maknai sebagai bagian dari mensucikan diri.

“Dalam hubungan dengan sesama manusia, mensucikan diri kita lakukan dengan cara saling maaf memaafkan, dan tidak terlepas dari aspek kesabaran. Pada penggalan Surat As Syura ayat 33 dijelaskan tentang tanda-tanda kekuasaan Allah SWT bagi orang yang selalu bersabar dan banyak bersyukur,” kata Dekan Fisipol, Kamis (20/5/2021).

AS Martadani menyebutkan, sabar juga disandingkan dengan Shalat, batu ujian, jalan keluar dan cara untuk meningkatkan keimanan ketaqwaan. Sabar merupakan pengakuan kita sebagai makhluk yang tidak memiliki eksistensi makna apapun dihadapan kekuasaan dan kehendak Sang Khaliq. Sabar akan membakar kesombongan dan keangkuhan. Disisi lain, sabar juga mengandung makna berharap lebih baik pada masa akan datang.

Wakil Rektor I UWM Dr. Jumadi, SE., MM menuturkan 2 tahun pandemi Covid-19 menjadi refleksi bagi kita semua tentang reputasi kita semakin baik dari waktu atau periode sebelumnya atau sebaliknya. Perubahan saat ini harus dipahami apakah kita melakukan perubahan karena berharap adanya imbalan, faktor lingkungan atau kesadaran pribadi.

“Setiap orang pasti memiliki kelemahan dan kekuatan. Covid-19 jangan dijadikan alasan untuk tidak meningkatkan kualitas diri, kita harus tetap bersyukur agar Allah SWT senantiasa menambahkan keberkahan,” kata Jumadi.

Ust. Sihabuddin menerangkan syawalan di tengah pandemi Covid-19 ini justru bisa menjadi kesempatan untuk melakukan refleksi diri untuk menjadi insan yang bereputasi. Dalam upaya mewujudkannya, kita harus memiliki empati yang tinggi terhadap suasana dan kepada sesama.

“Seseorang yang berempati dibuktikan dengan komunikasi yang baik. Untuk menjadi insan bereputasi kita harus amanah. Kejujuran menjadi hal utama dalam menjalankan amanah tersebut. Tentu saja diimplementasikan dengan sikap amanah ketika kita mendapatkan posisi atau jabatan disebuah lembaga seperti perguruan tinggi,” tegas Ust. Sihabuddin.

Hal yang harus diutamakan dalam mewujudkan insan bereputasi, Ust. Sihabuddin menandaskan, harus memiliki etika atau akhlak. Akhlak tersebut terdiri dari akhak pada Tuhan, pada sesama manusia, dan akhlak kepada alam.

©HumasWidyaMataram


Share Berita