Sustainable tourism muncul sebagai respons atas dampak negatif pariwisata massal terhadap lingkungan, ekonomi, dan budaya lokal. Sustainable tourism menekankan keseimbangan antara kunjungan wisatawan dan pelestarian sumber daya alam serta kearifan lokal. Hal ini disampaikan oleh Dr. Jumadi, S.E., M.M. di Kampus Terpadu Universitas Widya Mataram (UWM), Banyuraden, Gamping, Sleman pada Senin (7/7).
“Dengan menerapkan prinsip-prinsip ini, destinasi pariwisata dapat tumbuh secara inklusif dan tahan lama. Konsep ini juga mendorong partisipasi aktif masyarakat setempat dalam setiap aspek operasional pariwisata,” kata Wakil Rektor I UWM ini.
Dikatakan Dr. Jumadi, sustainable tourism berfokus pada pengurangan jejak ekologis aktivitas pariwisata, dan melalui praktik sustainable tourism wisatawan diajak untuk lebih sadar lingkungan dan mengambil peran kecil namun signifikan, seperti memilih akomodasi ramah lingkungan atau mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
“Keberhasilan sustainable tourism bergantung pada kolaborasi pemerintah, masyarakat lokal, dan pelaku industri pariwisata. Sinergi ini memastikan bahwa pariwisata tidak hanya menjadi sumber pemasukan, tetapi juga agen perubahan positif,” kata dosen Program Studi Manajemen ini.
Lebih lanjut, Dr. Jumadi mengemukakan bahwa sustainable tourism melibatkan masyarakat lokal dalam perencanaan, menghormati budaya, dan meningkatkan kualitas hidup warga. “Dan juga mendistribusikan keuntungan pariwisata secara adil, membuka lapangan kerja, dan mendukung UMKM,” ungkapnya.
Sustainable tourism mendorong pariwisata berkualitas yang harmonis dengan alam, budaya, dan ekonomi lokal. “Dengan penerapan prinsip-prinsip ini, destinasi wisata dapat tumbuh berkelanjutan, masyarakat setempat sejahtera, dan lingkungan tetap terjaga untuk generasi mendatang. Keberhasilan akan hal ini menuntut komitmen bersama—pemerintah, industri, masyarakat, dan wisatawan,” pungkasnya.