Revolusi Industri 4.0 sudah menjadi hal yang tidak asing lagi dalam perbincangan di semua profesi, para petinggi dalam memberikan kata sambutan di berbagai kegiatan rasanya belum komplit kalau tidak menyampaikan istilah revolusi industri 4.0. Namun apakah semua elemen bangsa ini sudah dapat menerima dan dapat mengikuti pergerakan revolusi industri yang sat ini sudah memasuki era 4.0 atau era digital?
Sepertinya, belum semuanya “melek” bahkan dapat mengikutinya. Hal ini dapat disebabkan karena sistem pendidikan di Indonesia belum menganut asas membangun kreatifitas. Mengapa demikian? Kalau kita cermati pergantian kurikulum yang ada dalam pendidikan kita mulai dari pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi, hampir semua dilakukan untuk memenuhi syarat adminitrasi bukan untuk memenuhi standar kembutuhan kompetensi dan kebutuhan pasar.
Hal ini dapat dilihat ketika seorang lulusan yang mencari pekerjaan masih harus menambah kemampuan atau keahlian diluar pendidikan formalnya, hal ini mestimya tidak terjadi manakala kurikulum yang dikembangkan dan disyaratkan oleh pemerintah sudah memenuhi unsur keahlian yang di butuhkan oleh pasar. Hanya sebagian kecil lulusan yang mempunyai kreativitas dan inovasi dalam proses pembelajaran sehingga lulus langsung dapat beradaptasi dengan lingungan yang berubah termasuk didalamnya adalah perubahan dalam industri yang kita kenal dengan revolusi Industri 4.0.
Oleh karena itu dalam mempersiapkan tenaga kerja yang dapat beradaptasi dengan Revolusi Industri 4.0 ini, idealnya dirangcang dengan matang dan berkesinambungan dalam sistem pendidikan yang dapat menghasilkan lulusan yang kreatif dan inovatif (berjiwa enterpreneurship) dan siap serta mampu menangkap peluang serta mengahdapi berbagai tantangan.
Untuk dapat menghasilkan lulusan yang kreatif dan innovatif memang memerlukan strategi kolaborasi dari pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas (konsumen) dan media (penthahelix).
Dengan kolaborasi penthahelix ini dapat didorong agar perguruan tinggi tidak asik dengan riset yang hanya menghasilkan arsip tanpa adanya tindak lanjut dari hasil riset tersebut.
Dunia industri yang mengalami masalah inovasi karena mengalami kesulitan biaya riset yang tidak sedikit, perlu melakukan kerjasama dan kolaborasi dengan perguruan tinggi untuk mengurai permasalahan tersebut. Pemerintah perlu menyiapkan roadmap dalam pengembangan industri sehingga kucuran dana untuk penelitian dapat dihilirisasi.
Kaum penikmat atau konsumen yang sangat konsumtif dalam pengalokasian anggarannya diedukasi supaya tidak hanya sebatas konsumen namun dengan kreativitasnya dapat menjadi produsen.
Dilain pihak media dapat menjadi suport terhadap pengembangan sumberdaya, sarana promosi dalam berbagai aktivitas yang bertujuan untuk meningkatkan nilai tambah bagi program yang berbasis entrepreneurship di semua kalangan.
(Penulis: Dr. Jumadi, S.E., M.M- Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni, Humas dan Kerjasama Universitas Widya Mataram di Yogyakarta, Ketua Ikatan Dosen Republik Indonesia Wilayah DIY-Pernah dimuat pada laman https://www.watyutink.com/opini/Strategi-Menghasilkan-Lulusan-Kreatif-dan-Inovatif-dalam-era-Revolusi-Industri-40