Pentingnya pendidikan harus disadari sehingga dalam proses menempuh pendidikan tidak sekedar berorientasi untuk bekerja dan menghasilkan uang. Berfikir dengan landasan ilmu pengetahuan akan memberikan pengaruh pada sikap dalam proses menempuh pendidikan tersebut. Bagi seorang mahasiswa, menempuh pendidikan seyogyanya juga diibimbangi dengan mendalami kemampuan berorganisasi dan aktif melakukan riset. Sebagai mahasiswa juga tidak cukup hanya sekedar mendengarkan dosen di kelas.
Mahasiswa Program Studi (Prodi) Sosiologi, Universitas Widya Mataram (UWM), Abdullah Arman mengungkapkan, rendahnya kualitas sumber daya manusia menjadi salah satu latar belakang perlunya peningkatan kesadaran tentang pendidikan. Kualitas yang rendah dapat dikatakan sebagai bentuk kegagalan dari proses pendidikan tersebut.
“Slogan time is money mempengaruhi konstruksi generasi bangsa yang membuat peserta didik mengambil jalan pintas untuk segera terjun ke dunia kerja. Seharusnya slogan tersebut diubah menjadi time is knowledge, knowledge is power, dan power is money,” kata Arman, Kamis (23/4/2020).
Menurut mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) itu, waktu harus digunakan untuk belajar sehingga mendapatkan ilmu pengetahuan yang dapat dijadikan sebagai kekuatan untuk dapat menghasilkan banyak hal, salah satunya uang. Dengan begitu akses pendidikan harus menjadi perhatian bagi pihak-pihak berkepentingan. Terlebih saat ini kondisi di tengah pandemi Covid-19 yang membutuhkan perhatian dalam hal akses pendidikan meskipun metode pembelajaran bergeser dari tatap muka menjadi daring.
Ranika Rahayyu, dari Prodi yang sama menceritakan, pandemi Covid-19 memang menjadi efek kejut bagi kita semua. Dapat dikatakan saat ini semua tengah memasuki era baru untuk membangun kreativitas, dan dipaksa mengikuti perkembangan zaman. “Pembelajaran daring akan menjadi metode yang efektif, khususnya bagi para peserta yang lebih dewasa dan memiliki motivasi kuat untuk mengejar sukses dan senang diberi kepercayaan melakukan proses belajar secara mandiri,” papar Ranika.
Meski demikian, lanjut Ranika, kesuksesan paket pembelajaran jarak jauh yang meninggalkan ketaatan pada jadwal seperti pada proses pembelajaran tatap muka, bukanlah merupakan suatu pilihan yang mudah baik bagi dosen maupun mahasiswa. Dalam aspek pemerataan kualitas pendidikan, pembelajaran daring juga dapat menjadi metode untuk mewujudkannya meskipun tidak sedikit kendala yang harus dihadapi.
Cahya Purnama Asri, SE., MM selaku Kepala Biro Akademik UWM mengungkapkan, perkuliahan secara daring yang sudah berjalan sejak bulan Maret lalu selalu dievaluasi. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan, sebagian besar mahasiswa cukup antusias mengikuti pembelajaran daring meskipun masih ada beberapa kendala yang dirasakan mahasiswa.
“Mengenai efektivitas pembelajaran daring, untuk mewujudkannya memang dibutuhkan lompatan dalam konsep pembelajaran dan harus segera dilaksanakan mengingat aspek akademik sangat krusial di lembaga pendidikan,” papar Cahya.
Cahya menjelaskan, pendidikan harus disesuaikan dengan situasi. Dari sisi Dosen tidak ada kendala selama penerapan pembelajaran daring. Kendati demikian, persoalan koneksi dan kuota internet yang dihadapi para mahasiswa harus menjadi perhatian utama. Sebagai upayanya, Cahya yang juga menjadi Tim Tanggap Covid-19 UWM itu juga berusaha menjalin kerja sama pihak luar untuk memudahkan akses internet.
Sedangkan dalam mewujudkan tujuan pembelajaran daring, Hendra, mahasiswa yang mengambil mata kuliah Gerakan dan Paradigma Ekologi Sosial (GPES) pada Prodi Sosiologi ini berharap adanya perhatian dalam sistem pembelajaran agar lebih efektif dan sistematis, sehingga dalam jangka pendek di kelas, materi perkuliahan lebih cepat dan mudah di pahami.
©HumasWidyaMataram