Kesadaran akan perlunya pengolaan sampah perlu dibangun di tengah masyarakat. Prinsip Triple R perlu diterapkan, yaitu Replace, Reduce, Reuse.
Recycle adalah salah satu langkah yang diperlukan dalam melakukan pengelolaan sampah. Hal-hal ini yang sedang diusahakan oleh Tim Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) Universitas Widya Mataram (UWM).
Adalah seniman-perupa Gunadi, warga Tamansari Kelurahan Patehan-Kraton, yang merintis penerapan recycle dalam karya seninya. Seperti dalam karya karya upcycle art berjudul “Silent Energy” yang saat ini tengah dipamerkan di Studio Podcast Kutunggu di Pojok Ngasem UWM.
“Silent Energy” dibuat Gunadi dengan citraan lukisan-drawing dalam medium hot engraving pada sampah-limbah plastik sekali berukuran 48 cm x 35 cm.
Upcycle art, berkesenian dengan memanfaatkan sampah-limbah menjadi karya seni menjadi pembacaan banyak seniman ketika limbah-sampah plastik menjadi masalah serius bagi lingkungan.
Karya seni Gunadi berawal dari riset sederhana ketika dia melihat realitas lingkungan sekitarnya yang terdapat sampah. Kemudian dia membaca situasi itu sebagai permasalahan lingkungan dan sosial di kampungnya, Tamansari yang menjadi daerah tujuan wisata sekaligus berdekatan dengan pusat perekonomian warga: Pasar Ngasem.
Sampah-limbah domestik salah satunya terutama tas plastik bungkus, plastik kemasan berlapis alumium foil, dan styrofoam adalah realitas yang tidak terhindarkan dari aktivitas perekonomian dan pariwisata di Tamansari, Pasar Ngasem, dan sekitarnya. Begitupun pada wilayah Yogyakarta.
Gunadi menuturkan sebagian besar limbah plastik merupakan kemasan makanan kecil, plastik pembungkus/kresek, plastik kemasan berlapis alluminium foil tidak diserap oleh bank-bank sampah karena tidak memiliki nilai ekonomi dan hanya berakhir dan menumpuk di tempat penimbunan akhir (TPA).