Home
news
Selamat Jalan Buya Syafii Maarif

Selamat Jalan Buya Syafii Maarif

news Jumat, 2022-05-27 - 11:34:39 WIB

Muhammadiyah dan bangsa Indonesia berduka atas meninggalnya Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif atau Buya Syafii, di RS Muhammadiyah, Gamping, Sleman, Jumat, 27 Mei 2022 pukul 10.15 WIB.

Demikian kabar duka yang beredar secara beranting tentang Buya Syafii yang pulang ke haribaan Allah Swt. Cendekiawan, agamawan, dan budayawan Islam kelahiran di Nagari Calau, Sumpur Kudus, Minangkabau pada 31 Mei 1935, meninggal setelah menjalani perawatan di rumah sakit tersebut.

Putra dari pasangan Ma'rifah Rauf Datuk Rajo Malayu, dan Fathiyah itu, dikenal sebagai sosok teladan, yang hidup sederhana meskipun sejumlah jabatan strategis pernah dipangkunya. Di antaranya jabatan yang diembak sebagai Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah 1998-2005, dan sederet jabatan lainnya.

Dia merintis karirnya mulai dari mengikuti Pendidikan di Madrasah Mu'allimin Muhammadiyah Yogyakarta (1956), Universitas Cokroaminoto Surakarta (1964), IKIP Yogyakarta (1968), S-2 di Ohio State University, Amerika Serikat (1980), dan S-3 University of Chicago, Amerika Serikat (1983).

Dia tercatat sebagai dosen dan guru besar di Fakultas Keguruan Ilmu Sosial, IKIP yang berganti menjadi Universitas Negeri Yogyakarta, dan sejumlah perguruan tinggi Muhammadiyah serta perguruan tinggi lainnya.

Sejumlah karya yang diterbitkan Mengapa Vietnam Jatuh Seluruhnya ke Tangan Komunis, Yayasan FKIS-IKIP, Yogyakarta, 1975, Dinamika Islam, Shalahuddin Press, 1984, Islam, Mengapa Tidak?, Shalahuddin Press, 1984, Percik-percik Pemikiran Iqbal, Shalahuddin Press, 1984, Islam dan Masalah Kenegaraan, LP3ES, 1985.

Buya Syafii yang gemar pergi ke berbagai tempat tanpa pengawalan itu meninggalkan banyak catatan kebaikannya. Sikapnya yang sederhana, santun, bijak, menunjukkan sosoknya sebagai teladan. “Kita Kembali kehilangan sosok teladan,” tulis Thoriq, aktivis Gerakan Reformasi 1998.

Buya Syafii juga dikenal sangat kritis terhadap upaya politisi agama sebagai instrumen dan kendaraan politik. Ketika terdapat upaya politisi agama, dia kadang mengungkapkan nada pedas tetapi halus, misalnya saat agama menjadi kendaraan Pemilu 2019. Komentarnya, “Masa Tuhan dibawa pemilu. Kan itu tidak benar, tapi itu terjadi,”

Selamat Jalan Buya Syafii. Kami mengenang kebaikan dan kebijakanmu.


Share Berita