Home
news
“Saya Sarjana ke-100 di Kawasan Puncak Merapi”

“Saya Sarjana ke-100 di Kawasan Puncak Merapi”

news Jumat, 2022-03-04 - 09:18:28 WIB

Sugianto mengaku sangat bangga bisa lulus dan segera menyandang gelar Sarjana Administrasi Publik (SAP) dari Universitas Widya Mataram (UWM). Lelaki asal dusun Banyu Adem, Srumbung, Magelang,menyebut dirinya menjadi sarjana ke-100 di desanya.

Mahasiswa program studi Administrasi Publik UWM itu mengatakan, “Saya menjadi sarjana ke-100 di dusun pertama di bawah puncak Merapi,” kata dia saat mengikuti yudisium dan pelepasan sarjana baru dari Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipol) UWM, Kamis (24/2/2022).

Perangkat desa di Srumbung itu dinyatakan lulus terbaik saat yudisum bersama 11 mahasiswa lain, yang dipimpin Dekan Fisipol UWM Dr. As Martadani Noor, M.A,dan dihadiri Wakil Rektor I UWM Dr. Jumadi, SE., MM.

Kuliah di perguruan tinggi tidak direncanakan oleh Sugianto. “Saya sedang mencari informasi tentang perguruan tinggi untuk keponakan saya yang mau kuliah. Kemudian mendapat nama Universitas Widya Mataram.Nama itu saya serahkan, eh keponakan tidak tertarik, justru saya yang tertarik mendaftar keUWM pada dua hari menjelang penutupan pendaftaran,” kata dia mengisahkan perjalanan awal kuliah 3.5tahun silam.

Dia berangan-angan menjadi sarjana yang bisa menambah sumber daya manusia berpendidikan tinggi di desanya. Alasannya, desanya sangat subur, sebagian besar warga bertani salahk pondok di lahan 167 hektar. Selain itu, warga memproduksi gula dengan omzet mencapai miliaran setahun.

“Masalah di desa saya menyangkut kualitas sumber daya manusia (SDM). Sebagian besar lulusan SMA atau di bawahnya. Aparat desa pendidikan tertinggi SMA. Karena itu SDM yang berkualitas belum mencukupi.”

Dengan gelar sarjana administrasi publik yang disandangnya, dia berharap bisa mengabdi sebagai aparat desa yang memiliki kualifikasi baik dan bekerjasesuai dengan ilmu dan gelar kesarjanaannya.

Dr. As Martadani Noor, M.A, menyatakan salut atas perjuagan Sugianto. Dengan latar belakangnya sebagai mahasiswa dari desa, dia mengingatkan perjalanan pendidikan yang dialaminya.

“Saya sendiri dari desa. Selama sekolah dasar, saya baru mengenal sepatu saat mau lulus. Saat memasang sepatu harus terbalik karena saya tidak tahu dan tidak pernah memakai sepatu selama sekolah SD.”

Tetapi siapapun dari desa tidak perlu berkecil hati atau minder untuk menempuh pendidikan tertinggi karena soal kecerdasan dan semangat belajar orang desa bisa saja lebih baik dari orang kota.

“Saya kuliah strata satu (S1) sampai S3 selalu mendapat beasiswa,” ujar dia dalam menggambarkanorang desa itu bisa berpretasi.

Pendidikan AS Martadani S1 dari Fisipol UWM (lulus 1991), master/S2 dari Andhara University, dan program doktor (S3) dari Universitas Sebelas Maret.

Ketika menjadi sarjana, menurut dia, inginannya menghadirkan pemikiran alternatif.

“Pikiran kita sebagai sarjana harus menjadi pemecah masalah, menghadirkan pemikiran alternatif. Itu biasanya dicibir, sementara sarjana pemikirannya biasa-biasa dilabel negatif, dikatakan sarjana kok hanya begitu saja.”

Dia menegaskan, para mahasiswa yang baru lulus dan menyandang gelar kesarjanannya menghadapi dunia nyata di tengah masyarakat, bagaimana berkiprah di dalamnya dan mendapat respon positif, itu tantangan.

Dr Jumadi menjelaskan UWM memantik pemikiran bebas dan merdeka bagi dirinya sejak kuliah di universitas ini pada1994. Kemudian lulus 1998 mendapat tawaran menjadi dosen. Kemudian diberi kesempatan universitas untuk menempuh program magister dan doktoran.

Menurut dia, sarjana perlu memahami peran yang ideal di masyarakat, yaitu berpikir kritis atau alternatif atau pemecah masalah, kreatif dan inovatif, dalam sikap empati kepada orang lain, memiliki kemampuan komunikasi yang baik, baik komunikasi personal maupun komunikasi online.***

©Humas WidyaMataram


Share Berita