Wonosobo, September 2024 - Desa Karangsari di Wonosobo, Jawa Tengah, tengah mengalami transformasi berkelanjutan melalui program pengabdian masyarakat yang inovatif. Kolaborasi antara Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Universitas Muhammadiyah Purworejo, dan Universitas Widya Mataram telah melahirkan inisiatif "Pengembangan agribisnis jamur berbasis teknologi pemanfaatan limbah serbuk gergaji sebagai bahan bakar biomasa steamer baglog".
Program yang didanai oleh Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi ini menggabungkan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan dalam satu paket pemberdayaan yang komprehensif, tahun anggaran 2024.
Highlight dari program ini adalah pelatihan perawatan jamur tiram yang diikuti oleh KWT Rukun Sejati, Kelompok Shodaqoh Sampah, dan BUMDes Mutiara Karangsari pada 7 September 2024. Ir. Mulyono, MP., dosen Agroteknologi UMY, memperkenalkan teknik budidaya jamur tiram yang tidak hanya ekonomis, tetapi juga ramah lingkungan.
"Inovasi penggunaan limbah serbuk gergaji sebagai bahan bakar biomassa untuk steamer baglog meningkatkan efisiensi produksi sekaligus mengurangi limbah industri perkayuan lokal," jelas Ir. Mulyono, MP.
Menurutnya Jamur tiram, atau Pleurotus ostreatus, adalah jenis jamur yang populer karena rasanya yang lezat dan nilai gizinya yang tinggi. Jamur ini kaya akan protein, serat, vitamin B, dan mineral seperti kalium dan fosfor. Selain itu, budidaya jamur tiram relatif cepat, dengan siklus panen sekitar 1-2 bulan.
Dalam budidaya jamur tiram, media tanam adalah kunci utama keberhasilan. Kita akan menggunakan campuran serbuk gergaji, bekatul, dan kapur dengan rasio 100:10:1. Serbuk gergaji yang kita gunakan berasal dari limbah industri perkayuan di sekitar Wonosobo, sehingga kita juga berkontribusi pada pengelolaan limbah.
Dr. Aris Slamet Widodo, Kepala Divisi Pengabdian Mahasiswa UMY sekaligus sebagai Ketua Tim Pelaksana Pengabdian Masyarakat, menekankan potensi program ini dalam meningkatkan pendapatan masyarakat, menciptakan lapangan kerja baru, dan mendiversifikasi ekonomi desa.
Sementara itu, Puji Qomariyah, sosiolog dari Universitas Widya Mataram, memandang program ini sebagai katalis perubahan sosial yang signifikan. "Ini bukan sekadar tentang produksi pangan, tetapi juga transformasi cara masyarakat berinteraksi dengan lingkungan dan satu sama lain," ujarnya.
Program ini juga sejalan dengan konsep kedaulatan pangan dan ketahanan pangan jangka panjang. Pendekatan sirkuler dalam sistem pangan yang diperkenalkan dapat menjadi model adaptasi terhadap perubahan iklim di tingkat lokal.
Dengan menggabungkan teknologi modern, kearifan lokal, dan prinsip keberlanjutan, program ini diharapkan dapat menjadi contoh sukses pemberdayaan masyarakat yang dapat direplikasi di daerah lain.
@humas