Pada Senin (19/5), Psikolog Klinis Devi Riana Sari, M.Psi., Psikolog, menyampaikan materi penting bertajuk “Mendorong Sensitivitas Mahasiswa Mengenali Kekerasan di Lingkungan Mahasiswa”. Dalam pemaparannya, Devi menekankan bahwa kekerasan di lingkungan kampus kerap kali hadir tanpa disadari dan tidak selalu berbentuk kekerasan fisik yang kasat mata. Banyak bentuk kekerasan lainnya seperti kekerasan verbal, emosional, simbolik, hingga kekerasan seksual yang seringkali dinormalisasi oleh budaya senioritas dan relasi kuasa, seperti antara dosen dan mahasiswa atau antara senior dan junior.
Devi menyoroti bahwa kekerasan psikologis seperti body shaming, silent treatment, tekanan emosional, dan intimidasi seringkali dianggap sebagai candaan atau bagian dari dinamika organisasi. Kekerasan seksual pun tidak hanya terjadi dalam bentuk kekerasan fisik, tetapi juga melalui sentuhan tanpa izin, catcalling, dan manipulasi dalam relasi romantis. Sementara itu, kekerasan simbolik terjadi ketika seseorang didominasi atau dilecehkan secara halus namun terus-menerus, yang mengikis harga diri korbannya. Seluruh bentuk kekerasan ini, apabila tidak dikenali dan ditangani, dapat menimbulkan trauma berkepanjangan dan gangguan psikologis serius seperti kecemasan, depresi, hingga risiko bunuh diri.
Devi menjelaskan bahwa banyak korban kekerasan tidak berani melapor karena takut dianggap lebay, takut dibalas pelaku, atau takut merusak nama institusi. Hal ini menciptakan budaya diam yang membuat kekerasan terus berulang. Bahkan, dalam banyak kasus, efek psikologis dari kekerasan baru muncul jauh setelah peristiwa terjadi — yang disebut sebagai delayed psychological response. Mahasiswa yang tampak baik-baik saja bisa tiba-tiba mengalami gangguan tidur, perubahan suasana hati ekstrem, atau menarik diri dari lingkungan sosial.
Dalam forum ini, Devi mengajak seluruh mahasiswa untuk lebih peka terhadap tanda-tanda kekerasan di sekitarnya dan membangun empati sebagai bentuk keberanian. Ia menyarankan agar mahasiswa mulai memperhatikan pola relasi yang tidak sehat, mengenali tekanan yang tidak wajar, dan waspada terhadap candaan yang sebenarnya menyakitkan. Mahasiswa juga diajak membangun support system di lingkungan kampus melalui kelompok diskusi, peer support, dan kolaborasi dengan BEM, dosen pembina, serta tenaga psikolog.
“Empati adalah bentuk keberanian. Dan keberanian adalah awal dari perubahan,” ujar Devi menutup sesi edukatif tersebut. Ia berharap agar kesadaran kolektif ini bisa mendorong terbangunnya kampus yang lebih aman, adil, dan berpihak pada korban, bukan hanya dari sisi fisik, tetapi juga dari sisi psikologis dan emosional mahasiswa.
Kegiatan ini diikuti oleh lima mahasiswa Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta, antara lain: Kasma Manggala dari Program Studi Kewirausahaan, Siti Nurhaliza dari Program Studi Akuntansi, Keysa Nanda Firdaus dari Program Studi Administrasi Publik, beserta Riska Putri Maharani, dan Aldo Zaki Pramudya dari Program Studi Hukum. Keseluruhan mahasiswa tersebut merasa senang dan memperoleh ilmu yang bermanfaat dari kegiatan yang mereka hadiri, bahkan kelimanya berani bertanya secara kritis mengenai wawasan yang mereka peroleh dalam kesempatan tersebut.