Program Studi Teknik Industri Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta, bekerja sama dengan Himpunan Mahasiswa Teknik Industri (HMTI) UWM, sukses menyelenggarakan Webinar Series 5 bertajuk “Meracik Masa Depan: Kopi Berkelanjutan, Tantangan Iklim dan Inovasi” pada Jumat (30/5). Acara yang berlangsung mulai pukul 10.00 WIB ini diikuti oleh 152 peserta dari kalangan siswa SMA/SMK/MA dan masyarakat umum.
Webinar ini bertujuan memperkenalkan industri kopi beserta tantangan keberlanjutannya kepada masyarakat luas, serta memperlihatkan luasnya cakupan kompetensi lulusan Teknik Industri, termasuk potensi berkarier di sektor agrikultur dan pangan. Peserta diharapkan memperoleh pemahaman bahwa lulusan Teknik Industri memiliki kemampuan untuk berperan strategis, seperti menjadi Project Manager dalam industri kopi.
Hadir sebagai narasumber, Nuzul Qudri, alumni Teknik Industri UWM angkatan 1992 yang kini menjabat sebagai Project Manager di World Coffee Research. Ia membagikan pengalaman dan wawasannya mengenai tantangan global dalam menjaga keberlanjutan industri kopi. Dalam pemaparannya, Nuzul menjelaskan bahwa Indonesia merupakan produsen kopi terbesar ke-4 di dunia, dengan produksi sekitar 600 ribu ton per tahun, tersebar dari Aceh hingga Flores.
Namun, ia menyoroti bahwa perubahan iklim global menjadi ancaman serius terhadap keberlangsungan produksi kopi, khususnya jenis Arabika. “Kenaikan suhu global berdampak pada pertumbuhan tanaman kopi. Indonesia menghadapi tantangan berupa kekeringan, anomali cuaca, serta serangan hama dan penyakit,” ujarnya. Negara-negara penghasil kopi lainnya seperti Brasil, Vietnam, Kolombia, dan Ethiopia juga mengalami tantangan serupa.
Sebagai solusi, Nuzul menekankan pentingnya inovasi dalam pengembangan varietas kopi yang tahan terhadap perubahan iklim. Ia juga menegaskan bahwa inovasi dalam sektor ini turut mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) 2: Zero Hunger, dengan menghadirkan tanaman yang lebih tangguh dan adaptif terhadap kondisi ekstrem.
Menutup sesi presentasi, Nuzul mengajak peserta untuk memandang masa depan industri kopi dari perspektif adaptasi iklim, pemanfaatan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI), serta pentingnya kolaborasi lintas sektor.
Dalam sesi tanya jawab, salah satu peserta, Armi Yunaldi, mengajukan pertanyaan mengenai bagaimana mempertahankan eksistensi kopi di tengah maraknya minuman kopi olahan. Nuzul menjelaskan bahwa meskipun kopi kini hadir dalam berbagai bentuk produk turunan, biji kopi tetap menjadi bahan baku utama. Ia juga menekankan peran pertanian regeneratif dalam menjaga kualitas tanah secara berkelanjutan, seraya mencontohkan keberhasilan Vietnam dalam mengelola lahan hingga menghasilkan 4 ton per hektar berkat teknologi dan praktik pertanian yang baik.
Lebih jauh, ia menyampaikan pandangan futuristik bahwa di masa depan, kopi bisa saja tidak lagi dihasilkan dari kebun, melainkan melalui proses laboratorium. “Kita perlu mulai berpikir out of the box. Inovasi adalah kunci untuk menjaga kelangsungan industri kopi,” pungkasnya.
Webinar ini menjadi momen penting untuk meningkatkan kesadaran publik akan keterkaitan antara industri kopi, keberlanjutan, dan peran strategis lulusan Teknik Industri, serta mendorong generasi muda untuk terlibat aktif dalam menghadirkan solusi inovatif terhadap tantangan global.