Home
news
Prof. Edy: Paradoks Tingkat Keberagamaan terhadap Perilaku Moral Sosial Manusia Indonesia

Prof. Edy: Paradoks Tingkat Keberagamaan terhadap Perilaku Moral Sosial Manusia Indonesia

news Senin, 2025-04-14 - 13:54:46 WIB

Masjid Syuhada Kotabaru Yogyakarta secara rutin menggelar kegiatan Cetar atau Ceramah Tarawih yang berlangsung selama bulan Ramadan 1446 H/2025 M. Pada hari Kamis malam (20/3) Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec., Rektor Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta mendapatkan kesempatan sebagai penceramah dan menyampaikan tausiyah dengan tema "Paradoks Tingkat Religiusitas dan Perilaku Moral Sosial Manusia Indonesia".

Kegiatan ini dihadiri oleh puluhan jamaah yang memenuhi ruang utama masjid. Sejak selesai salat Isya, jamaah tampak antusias menanti dimulainya ceramah sebelum salat tarawih berjamaah. Dalam pembuka tausiyahnya, Prof. Edy mengucapkan rasa syukur karena telah bersama-sama melewati Ramadan ini hingga hari ke-20. 

"Alhamdulillah sampai hari ini kita telah melampaui 20 hari puasa Ramadan, serta mudah-mudahan bisa menyelesaikan dengan sebaik-baiknya; memperoleh barokah, maghfirah atau pengampunan. Dan pada tahun-tahun mendatang masih diberikan kesempatan berjumpa dengan bulan Ramadan karena pada bulan tersebut merupakan kesempatan untuk menambahkan investasi kita untuk akhirat," ucapnya.

Tema yang disampaikan pada tausiyah malam ini merupakan cara pandang otokritik, khususnya pada masyarakat muslim di Indonesia. Ketua Forum Rektor Indonesia Periode 2008-2009 ini mengisahkan bahwa kewajiban muslim untuk berdakwah, khususnya di Indonesia mengalami peningkatan yang luar biasa. "Pada tahun 1960an, dakwah atau ceramah agama hanya dilakukan oleh kyai-kyai kampung, guru agama, atau dosen dari kampus Islam. Amat jarang seorang figur publik menjadi penceramah agama seperti saat ini yang banyak diisi oleh Guru Besar yang bukan dari bidang ilmu agama. Hal ini merupakan bentuk perkembangan positif masyarakat muslim Indonesia yang terus-menerus meningkatkan kesalehan ritualnya."

Prof. Edy juga menambahkan data yang menarik dari jumlah masjid di Yogyakarta dan di Indonesia sampai ke jumlah jamaah Umroh maupun Haji tiap tahunnya. "Masjid terbanyak nomor satu di Indonesia dari jumlah rasio penduduknya adalah di Jogja, bahkan dari sejumlah tiga jutaan masjid di seluruh dunia, sekitar delapan ratus ribuan berada di Indonesia. Begitu juga dengan jamaah Umroh yang meningkat tiap tahunnya, antrian Haji yang semakin lama dari waktu ke waktu."

Namun, ironisnya, prestasi maupun capaian yang menggembirakan dalam masyarakat muslim Indonesia ini tidak mampu untuk membuktikan ke dalam perilaku yang bersih sesuai dengan ajaran Islam. Wakil Ketua Majelis Pendidikan Tinggi dan Litbang Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2005-2023 ini menyebutkan beberapa contoh memprihatinkan dalam peristiwa korupsi oleh pejabat pemerintah dan kasus asusila oleh aparat dalam waktu belakangan ini.

"Menurut Corruption Perceptions Index atau Indeks Persepsi Korupsi di Indonesia sangatlah tinggi. Kita melihat kasus Pertamina dengan angka 193 Trilyun, PT Timah mencapai 300 trilyun, yang kemudian diikuti oleh kasus BLBI dan seterusnya yang dilakukan oleh pejabat-pejabat Pemerintah. Padahal para pejabat ini mereka melakukan ibadah yang baik: salatnya, puasanya, zakatnya, dan seterusnya", ujar Guru Besar Bidang Ekonomi ini.

"Tidak terhenti pada kasus korupsi, kita juga disuguhkan peristiwa amoral yang dilakukan oleh oknum aparat TNI dan Polri. Seorang anggota TNI yang menghilangkan nyawa 3 orang polisi karena menggrebek kegiatan judi sabung ayam di Lampung, kemudian seorang Kapolres di NTT yang melakukan perbuatan asusila terhadap anak di bawah umur bahkan menjual video perbuatannya ke luar negeri." ucapnya prihatin.

Dalam penyampaian penutup, Prof. Edy menyebutkan bahwa keteladanan secara lisan memang menghasilkan dampak yang luar biasa positif, namun disaat bersamaan Indonesia kekurangan contoh figur yang bisa memberikan keteladanan secara perilaku. Dalam tausiyah ini, Prof. Edy memberikan contoh figur menarik yaitu pesepakbola bernama Mohamed Salah, warga kebangsaan Mesir yang saat ini bermain untuk Klub Liverpool, Inggris.

"Mohamed Salah, seorang pemain sepakbola internasional, beragama Islam, dan mampu menunjukan perilaku yang baik sebagai manusia dan sebagai seorang olahragawan profesional. Kebaikannya dicontohkan dalam perilaku berkeluarga, dan bersosial, serta mampu menunjukan prestasi terbaik sebagai pesepakbola. Bahkan dengan kebaikan perilakunya tersebut, banyak warga negara di Inggris yang masuk Islam, sampai pada suatu penelitian, figur Mohamed Salah menurunkan Islamophobia di Liverpool hingga 18.9%," tutupnya.

Acara berlangsung dengan khidmat dan dilanjutkan dengan salat Tarawih hingga Witir. Kegiatan Ceramah Tarawih di Masjid Syuhada ini dijadwalkan akan terus berlangsung hingga akhir bulan suci Ramadan dengan menghadirkan berbagai penceramah terkemuka.


Share Berita