Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam dunia akademik dinilai memiliki potensi besar untuk meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan kualitas kerja dosen maupun mahasiswa. Namun, pemanfaatan teknologi tersebut tetap harus ditempatkan sebagai alat bantu yang digunakan secara bertanggung jawab dengan menjunjung tinggi integritas dan etika akademik.
Hal tersebut disampaikan Rektor Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta, Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec., saat menjadi Keynote Speaker dalam kegiatan bertajuk “Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam Bidang Akademik” yang diselenggarakan di Auditorium Gedung Piwulangan, Kampus Terpadu UWM, Senin (2/11).
Dalam pemaparannya, Prof. Edy menegaskan bahwa perkembangan AI perlu direspons secara terbuka oleh sivitas akademika. Menurutnya, dosen dan mahasiswa tidak seharusnya hanya menjadi pengguna pasif teknologi, tetapi perlu memahami cara kerja dan memanfaatkannya untuk mendukung pekerjaan akademik.
“AI ini sangat membantu. Karena itu, saya mengajak Bapak-Ibu yang memang memiliki motivasi untuk menambah pengetahuan dan mengimprovisasikan penggunaan AI untuk belajar bersama,” ujar Prof. Edy.
Ia mengungkapkan bahwa dirinya pun mulai memanfaatkan berbagai aplikasi berbasis AI dalam mendukung sejumlah aktivitas akademik. Menurutnya, AI dapat membantu mempercepat pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan waktu jauh lebih lama. Dalam konteks akademik, teknologi tersebut antara lain dapat digunakan untuk membantu penyusunan berbagai dokumen pembelajaran, pengembangan gagasan, hingga mendukung proses penulisan karya ilmiah.
Prof. Edy mencontohkan penggunaan AI dalam penyusunan Rencana Pembelajaran Semester (RPS), Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL), maupun berbagai kebutuhan akademik lainnya. Ia menilai kemampuan AI dalam membantu mengolah dan menyusun informasi dapat memberikan efisiensi yang signifikan bagi dosen.
“Bayangkan kalau di tempat lain sebelum pembuatan kita tidak tahu. Betapa tertinggalnya diri kita. Sekarang kita ingin memahami itu di sini,” ungkap Mantan Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swastas Indonesia ini.
Namun demikian, Prof. Edy mengingatkan bahwa kemudahan yang ditawarkan AI tidak boleh membuat sivitas akademika kehilangan kemampuan berpikir kritis. AI, menurutnya, harus diposisikan sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti kapasitas intelektual manusia.
Karena itu, ia menekankan pentingnya menjaga integritas akademik, transparansi, dan kejujuran dalam setiap pemanfaatan AI. Dosen maupun mahasiswa harus tetap mampu menunjukkan kontribusi intelektualnya dan tidak menjadikan AI sebagai sarana untuk menghilangkan tanggung jawab akademik.
“Bagaimanapun, AI adalah alat bantuan. Kita harus transparan, harus jujur, dan harus menyampaikan kepentingan yang kita ambil dari AI. Integritas akademik tetap harus dijaga,” tegasnya.
Menurut Prof. Edy, perkembangan AI juga memiliki keterbatasan. Jawaban yang dihasilkan oleh AI dapat berbeda ketika digunakan untuk menanyakan isu yang sama. AI juga dapat menghasilkan informasi yang keliru sehingga hasil yang diberikan tetap perlu diperiksa, diverifikasi, dan dikritisi oleh penggunanya.
“AI itu luar biasa, tetapi AI juga ada kelemahannya,” katanya.
Oleh sebab itu, kemampuan menggunakan AI perlu berjalan beriringan dengan kemampuan akademik, literasi informasi, dan critical thinking. Dosen tetap harus melakukan verifikasi terhadap informasi yang diperoleh, mengembangkan gagasan secara mandiri, serta memastikan bahwa karya akademik yang dihasilkan dapat dipertanggungjawabkan.
Lebih jauh, Prof. Edy melihat pemanfaatan AI bukan hanya berkaitan dengan efisiensi pekerjaan administratif dan pembelajaran, tetapi juga dapat menjadi instrumen untuk mendorong peningkatan performa akademik dosen. Ia menyoroti pentingnya peningkatan produktivitas publikasi dan kualitas karya ilmiah, termasuk indikator seperti H-Index dan publikasi yang terindeks Scopus maupun Google Scholar.
Menurutnya, teknologi AI dapat dimanfaatkan untuk membantu dosen mengembangkan gagasan, menyusun tulisan, maupun mempercepat sejumlah tahapan dalam proses penulisan. Namun, substansi dan kontribusi intelektual tetap harus berasal dari penulis.
Prof. Edy juga mengapresiasi kegiatan pelatihan yang menghadirkan praktik langsung pemanfaatan AI. Ia menilai pendekatan praktis akan membuat peserta lebih mudah memahami manfaat teknologi tersebut karena dapat langsung melihat bagaimana AI digunakan untuk menyelesaikan pekerjaan akademik.
Ia berharap kegiatan semacam ini tidak berhenti pada satu kegiatan, tetapi dapat dikembangkan secara lebih luas sehingga semakin banyak dosen dan sivitas akademika UWM yang memiliki kompetensi dalam memanfaatkan AI secara produktif dan bertanggung jawab.
“Ini sangat penting, terutama untuk pengembangan akademik dan inovasi. AI sangat-sangat membantu,” ujar Guru Besar Ilmu Ekonomi ini.
Dengan demikian, bagi UWM, transformasi digital melalui AI bukan sekadar mengikuti perkembangan teknologi, melainkan bagian dari upaya membangun budaya akademik yang adaptif, inovatif, dan tetap berlandaskan integritas. Pemanfaatan AI diharapkan mampu membantu sivitas akademika bekerja lebih efektif sekaligus membuka ruang yang lebih luas untuk menghasilkan karya-karya akademik yang berkualitas dan berdaya saing.