Home
news
PRODI ILKOM PERKUAT NILAI BUDAYA LOKAL MELALUI KUNJUNGI PEMBUAT KERIS

PRODI ILKOM PERKUAT NILAI BUDAYA LOKAL MELALUI KUNJUNGI PEMBUAT KERIS

news Jumat, 2024-01-26 - 13:07:19 WIB

Dalam memenuhi Capaian Akhir Pembelajaran (CAP), mahasiswa diharapkan tidak hanya memperdalam pemahaman terkait teori saja, melainkan pula terpenuhinya pengalaman para peserta perkuliahan melalui interaksi secara langsung di masyarakat. Hal ini penting dilakukan karena pengalaman langsung di masyarakat dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam dan holistik tentang suatu konsep atau teori. Hal tersebut disampaikan oleh Dyaloka Puspita Ningrum, S.I.Kom.,M.I.Kom. yang merupakan dosen Program Studi (Prodi) Ilmu Komunikasi (Ilkom) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Universitas Widya Mataram (UWM) pada Jumat (26/1/2024) di Gedung Fisipol UWM, Dalem Mangkubumen, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Berkaitan dengan hal tersebut, lanjut Dyaloka, mahasiswa Prodi Ilkom UWM telah melaksanakan kunjungan ke Ki Empu Sungkowo Harumbrodjo yang merupakan salah seorang pembuat keris di Desa Sumber Agung Moyudan Sleman Yogyakarta pada Jumat (22/12/2023). Kunjungan ini dilaksanakan dalam rangka perkuliahan Pengantar Pemberdayaan dan Kearifan Lokal pada Prodi Ilkom UWM. “Mahasiswa diharapkan dapat mempelajari dan memahami nilai-nilai kearifan lokal yang hidup di masyarakat serta mendiskusikan dan menganalisis nilai-nilai kearifan lokal tersebut,” pungkas Dyaloka.

Ki Empu Sungkowo Harumbrodjo merupakan salah seorang pembuat keris keturunan Majapahit (generasi ke-17) yang sampai sekarang masih aktif mewarisi, merawat bahkan mengedukasi masyarakat terkait warisan kebudayaan yang sangat adi luhur tersebut. Meskipun masih diproduksi secara tradisional, seni tempa pamor yang satu ini justru dilirik oleh beberapa negara tetangga, seperti Malaysia, Singapura, Thailand dan Brunei Darussalam.  

Ki Empu Sungkowo Harumbrodjo kemudian menjelaskan bahwa terdapat ritual tertentu yang dilakukan untuk membuat sebilah keris yaitu pamor mlumah, pamor miring, dan pamor rekan/rekayasa.

 

Humas@UWM


Share Berita