Dosen Prodi Administrasi Publik (AP) Universitas Widya Mataram (UWM), SL Harjanta, pada Senin (21/11) menyerahkan poster hasil penelitian tentang Collaborative Water Governance pada Ketua Komunitas Banyu Bening, Sri Wahyuningsih.
Harjanta menyampaikan bahwa sejumlah wilayah di Indonesia mengalami bencana banjir di saat musim hujan saat ini, namun ketika memasuki musim kemarau, sejumlah penduduk dihadapkan dengan krisis air. Lebih lanjut Harjanta menyebutkan bahwa bencana banjir maupun krisis air tak lepas dari tata kelola air yang buruk, dimana sejauh ini, pemerintah pusat maupun daerah dinilai kurang membuka ruang partisipasi publik dalam pengelolaan air.
Harjanta yang juga merupakan Direktur Tata Kelola Air Kolaboratif (TALAR) menjelaskan, syarat utama penerapan Collaborative Water Governance ini adalah pelibatan multi stakeholders termasuk non pemerintah dalam intensitas yang tinggi. “Dalam konsep ini, pemerintah memberikan ruang bagi pihak non pemerintah untuk ikut mengambil kebijakan terkait dengan air, selain itu, ada pendelegasian atau distribusi kewenangan pada pihak di luar pemerintah,” lanjut Harjanta.
Harjanta, yang merupakan Wakil Dekan I Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) UWM mengemukakan bahwa Di saat musim kemarau, sejumlah penduduk di Kabupaten Sleman dan Kota Yogyakarta mengalami kesulitan air, dan jika tidak ada upaya perbaikan tata kelola maka krisis air menjadi ancaman yang nyata.
Sri Wahyuningsih sebagai Ketua Komunitas Banyu Bening menyampaikan bahwa hasil penelitian sejalan dengam program Komunitas Banyu Bening. “Pencegahan krisis sekaligus konservasi air merupakan concern utama Komunitas Banyu Bening, sehingga penelitian ini sejalan dengan program komunitas,“ tutupnya.
Humas@UWM