Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) Universitas Widya Mataram (UWM) menyelenggarakan kuliah umum pada Kamis (27/9/2018) di Ruang Soekarno Nehru. Kuliah umum mengambil tema “Generasi Milenial Bervisi Sosial Bersemangat Entrepreneurship”. Penyelenggaraan kuliah umum bertujuan untuk membuka cara berpikir para mahasiswa baru tahun akademik 2018/2019. Disamping itu, kuliah umum juga menjadi agenda FISPOL untuk turut menyongsong Dies Natalis ke-36 UWM. Acara dihadiri oleh para mahasiswa baru FISIPOL dan para mahasiswa di lingkungan UWM. Dekan, Kaprodi di lingkungan FISIPOL, Ketua Panitia Dies, dan para dosen juga turut diundang dalam acara tersebut.
Menurut Fahmi Rafika Perdana, S.Sos., MA dengan tema kuliah umum ini diharapkan bisa menginspirasi dan memotivasi para mahasiswa di FISIPOL. Terlebih lagi, narasumber yang dihadirkan adalah Founder dan Chief Executive Officer (CEO) difabike. Lebih lanjut, Fahmi Dosen Sosiologi yang juga memiliki concern dalam aspek disabilitas tersebut, kuliah umum menghadirkan Triyono S.Pt sebagai narasumber akan menjadi daya tarik tersendiri bagi para mahasiswa dan peserta yang mengikuti kuliah umum. Hal tersebut mengingat pada era 4.0 ini masyarakat membutuhkan hal baru yang bisa dijadikan inspirasi untuk survive.
Sementara itu Suwarjo, SIP., M.Si selaku Dekan FISIPOL dalam sambutannya mengatakan bahwa kuliah umum bisa memberikan asupan gizi dan motivasi bagi para mahasiswa baru. Harapannya adalah dengan kolaborasi kegiatan antara FISIPOL dan Panitia Dies ini bisa memberikan dampak positif terutama kemajuan institusi. Selain itu kuliah umum yang menghadirkan narasumber yang inspiratif tersebut akan meng-influence mahasiswa UWM dan menanamkan tentang bagaimana menyikapi hidup, memposisikan diri, dan berproses untuk hidup.
Pemaparan materi dari narasumber Triyono, S.Pt dimulai dengan menceritakan masa-masa perjuangan saat masih kecil dan harus menerima kenyataan dengan terserang folio. Kondisi tersebut memaksa triyono untuk berjuang keras dengan dua tongkatnya. Kondisi tersebut tidak menyurutkan semangatnya sehingga saat ini telah menjadi entrepreneur salah satunya layanan ojek bagi para difabel. Keunikannya adalah selain memang untuk orang-orang yang berkebutuhan khusus, ternyata pengendara juga merupakan difabel.
Narasumber yang juga penggagas Difa City Tour tersebut menyampaikan dihadapan para mahasiswa UWM bahwa untuk bisa hidup bermakna, maka secepat mungkin seseorang harus sadar diri. Ia juga menegaskan bahwa banyaknya sarjana yang menganggur dilatarbelakangi oleh rendahnya keinginan mengasah jiwa kewirausahaan. Para mahasiswa seharusnya memiliki dorongan kuat untuk mengasah naluri atau insting berwirausaha sehingga tidak hanya mengandalkan gelar sarjana yang kelak akan didapatkan.
Era 4.0 generasi milenial seharusnya dapat dioptimalkan untuk membuka kran usaha dengan berproses sesuai dengan kemampuan diri secara sustainable, karena semua bisa diinformasikan dan berpeluang mendapatkan profit maupun benefit. Para mahasiswa dapat memanfaatkan media sosial untuk berbisnis. Tentu saja tata kelola keuangan, program sampai segmentasi pasar juga harus dimatangkan untuk menumbuhkembangkan usaha.
Menurut Triyono, Mahasiswa UWM harus membawa kemajuan kampus dengan segera sadar diri memahami kemampuan diri dan tidak membandingkan dg kemampuan orang lain. Disisi lain, selain memikirkan diri sendiri Triyono mengajak untuk mencoba keluar dari cangkang sejenak utk memikirkan orang lain dan beripkir tentang social enterprise. Di era saat ini mahasiswa tidak boleh hanya menjadi agen of change, namun menjadi leader of change, tegasnya. Hal yang harus mendapatkan perhatian adalah untuk segera menuntaskan studi secepat mungkin sebagi wujud memanfaatkan siklus waktu. ®HumasWidyaMataram