Perempuan Indonesia diharapkan semakin cerdas dalam menentukan hak pilihnya pada Pilkada 2024 sebagai wujud partisipasi aktif dalam demokrasi. Memilih dengan cerdas berarti menggunakan hati nurani, mempertimbangkan rekam jejak, kualitas moral, serta program kerja calon kepala daerah. Pesan ini disampaikan oleh Dr. Oktiva Anggraini, S.I.P., S.Pd., M.Si., Dosen Prodi Administrasi Publik FISIPOL Universitas Widya Mataram, dalam acara Sosialisasi Peran Perempuan dan Pemilih Pemula dalam Pilkada 2024 yang diadakan di Kalurahan Pandeyan, Kecamatan Umbulharjo, Yogyakarta, Jumat (15/11) lalu.
Menurut Oktiva, perempuan tidak perlu ragu menentukan pilihan. Berbagai sumber informasi seperti media sosial dan portal resmi pemerintah dapat dimanfaatkan sebagai referensi. “Tinjau rekam jejak calon, kualitas kinerja, moralitas, dan keterampilan profesional mereka. Pilihlah secara obyektif, bukan karena iming-iming uang, janji, atau pertimbangan emosional seperti agama, hubungan kekerabatan, dan sebagainya,” ujarnya.
Oktiva juga menekankan pentingnya keberanian untuk berbeda pendapat, termasuk dalam lingkungan keluarga. “Tidak perlu takut untuk berbeda, bahkan dalam pemilu, perbedaan pilihan dalam satu keluarga di rumah pun bisa terjadi dan tidak perlu merasa in secure. Kalau memang program yang ditawarkan kandidat tersebut bagus dan memberi solusi untuk daerah, ya tetapkan saja pilihan anda,” tegasnya.
Partisipasi perempuan dalam Pilkada 2024 sangat dinantikan. Data Komisi Pemilihan Umum (KPU) menunjukkan jumlah pemilih di Daftar Pemilih Tetap (DPT) Kota Yogyakarta terdapat 320.594 orang, dengan proporsi pemilih perempuan mencapai 167.145 orang, atau lebih banyak dibandingkan pemilih laki-laki sebanyak 153.449 orang. Oleh karena itu, perempuan memiliki pengaruh signifikan dalam menentukan arah pembangunan daerah.
Oktiva juga mengingatkan masyarakat untuk menjaga kerukunan dan tidak mudah terprovokasi oleh berita bohong atau hoaks yang dilancarkan buzzer politik menjelang pilkada. “Cek kebenaran berita sebelum membagikannya. Jika berita tersebut berpotensi memicu keributan atau keresahan sosial, sebaiknya tidak disebarkan,” pesan Dosen Prodi Administrasi Publik FISIPOL ini.
Media sosial menjadi salah satu faktor utama pembentukan opini publik. Oleh karena itu, perempuan diharapkan proaktif menggali informasi seputar Pilkada agar tidak tergiring opini yang merugikan. Sebagai penutup, Oktiva mengajak warga untuk memanfaatkan kesempatan mengenal calon kepala daerah lebih dalam melalui program talkshow Pilkada yang akan diselenggarakan KPU pada 27 November mendatang.
Dengan peran aktif dan kesadaran penuh, perempuan diharapkan dapat menjadi pemilih cerdas yang mendukung terwujudnya demokrasi sehat dan pembangunan daerah yang lebih baik.
©HumasUWM