Home
news
Partisipasi Tenaga Kerja Wanita Stagnan, Perlu Upaya Serius Tingkatkan Peran Perempuan di Dunia Kerja

Partisipasi Tenaga Kerja Wanita Stagnan, Perlu Upaya Serius Tingkatkan Peran Perempuan di Dunia Kerja

news Kamis, 2025-06-12 - 14:52:24 WIB

Meskipun tampak ada peningkatan peran perempuan dalam berbagai aktivitas perekonomian dan ketenagakerjaan, namun secara nyata, partisipasi tenaga kerja wanita di Indonesia masih stagnan. Hal ini disampaikan oleh Rektor Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta, Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec. dalam pidatonya pada International Conference di California State University (CSU) Sacramento, Amerika Serikat, pada Selasa (10/6).

"Selama lebih dari dua dekade, tingkat partisipasi wanita dalam pasar kerja tidak menunjukkan peningkatan signifikan. Angka labour force participation rate perempuan hanya berkisar di angka 50 persen. Ini berarti hanya sedikit lebih dari separuh perempuan dalam usia kerja yang terlibat aktif dalam perekonomian," ujar Prof. Edy.

Konferensi internasional ini dihadiri oleh sekitar 100 peserta, termasuk Ketua DPR RI Puan Maharani yang memberikan pidato kunci, Rektor CSU Sacramento Dr. Luke Wood, sejumlah anggota DPR RI seperti Ketua Komisi V Lasarus, MY Esti Wijayanti, Utut Adianto, Mufti Aiman, dan Charles Honiris. Walikota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti juga menjadi salah satu pembicara dalam forum tersebut.

Lebih lanjut, Prof. Edy menjelaskan bahwa dibandingkan dengan negara-negara lain di dunia, angka partisipasi tenaga kerja perempuan di Indonesia berada di kisaran rata-rata global. Namun, stagnasi dalam waktu lama menjadi masalah tersendiri, ditambah dengan dominasi perempuan di sektor informal yang penuh ketidakpastian dan berpendapatan rendah.

"Masalah lainnya adalah tingginya kesenjangan partisipasi antara laki-laki dan perempuan yang mencapai sekitar 30 persen. Ini menunjukkan perlunya langkah-langkah konkret untuk meningkatkan partisipasi tenaga kerja wanita, seperti peningkatan akses pendidikan bagi perempuan dan penghapusan hambatan struktural yang menghalangi mereka untuk bekerja atau menduduki posisi tinggi di berbagai bidang," tegas mantan Ketua Forum Rektor Indonesia (FRI) dan pengurus pusat Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) ini.

Prof. Edy juga menyoroti kondisi tenaga kerja wanita di sektor pemerintahan. Menurutnya, jumlah pegawai negeri sipil perempuan memang lebih banyak dibanding laki-laki, namun sebagian besar merupakan guru. "Sayangnya, proporsi perempuan di jabatan eselon I dan II masih sangat rendah, yakni kurang dari 20 persen. Ini menunjukkan adanya kesenjangan yang serius dari sisi level jabatan," katanya.

Di akhir paparannya, Prof. Edy mengungkapkan bahwa karena tekanan ekonomi keluarga, banyak perempuan Indonesia yang memilih bekerja di luar negeri. "Ironisnya, sebagian besar dari mereka bekerja secara ilegal dan hanya menjadi asisten rumah tangga. Ini tentu membutuhkan perhatian dan penanganan serius dari pemerintah," tutup mantan Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) ini.


Share Berita