Foto 1. Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec (Rektor UWM dan pakar ekonom) dalamTemu Media Akhir tahun di JCM.
Universitas Widya Mataram (UWM) bekerjasama dengan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) cabang Yogyakarta mengadakan Temu Media di Kampus II UWM di Jogja City Mall pada Kamis (21/12/2017). Acara yang bertopik “Perekonomian Indonesia 2017 dan Prospek 2018” tersebut menghadirkan beberapa wartawan, Dekan dan Wakil Dekan I Fakultas Ekonomi UWM. Sedangkan Narasumber acara diantaranya Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec (Rektor UWM), Dr. Jumadi, SE, MM (Wakil Rektor III UWM/Dosen FE UWM), Dr. Y. Sri Susilo, SE, M.Si (Sekretaris ISEI Jogja/Dosen FE UAJY) dan Dr. Amiluhur Soeroso, SE, MM, M.Si (ISEI Jogja/Dosen STIPRAM).
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia pada tahun 2017 hampir dapat dipastikan tidak memenuhi target yang ditetapkan dalam APBN. Dalam APBN ditargetkan 5,2 %, sedangkan pertumbuhan hanya berkisar 5,1 % saja. Hal tersebut disampaikan oleh Rektor UWM pada kesempatan awal membuka Temu Media di JCM. Pertumbuhan ekonomi selama tiga tahun terakhir ini tidak sesuai dengan jani-janji kampanye yang menargetkan pertumbuhan sebesar 7 % pertahun. Hal tersebut menunjukkan bahwa “mesin” birokrasi Indonesia belum bergerak maksimal untuk melaksanakan kebijakan Pemerintah.
Lebih lanjut lagi, ada hal yang cukup menggembirakan yakni ketimpangan distribusi pendapatan realtif membaik pada tahun 2014, jika dilihat dari Gini Ratio yang pada tahun 2014 sebesar 0,41 menjadi 0,39 pada tahun 2017. Sedangkan jika melihat proyeksi perekonomian Indonesia pada tahun 2018, sangat dipengaruhi oleh perekonomian dunia meskipun perekonomian Indonesia sangat bergantung pada kebijakan Amerika Serikat dan China. Satu hal yang membuat Ekonom optimis adalah Indonesia sudah mendapatkan rating layak investasi dari tiga lembaga yaitu Fitch, Moody’s, dan Standard and poors. Rektor UWM yang juga bagian dari ISEI tersebut menyampaikan tidak bisa menatap tahun 2018 dengan optimistik mengingat pada tahun 2018 suhu politik akan memanas dan menimbulkan ketidakpastian dalam perekonomian global.
Foto 2. Sekretaris ISEI Dr. Y. Sri Susilo, SE, M.Si memaparkan materi terkait perekonomian DIY 2017-2018
Disamping itu, Narasumber kedua Dr. Y. Sri Susilo, SE, M.Si juga memaparkan perihal perekonomian DIY khususnya. Menurut data , sejak tahu 2015 sampai sekarang, kontribusi pertumbuhan ekonomi (PDRB) didominasi oleh sector konsumsi swasta (61 persen) kemudia diikuti oleh investasi asing dan domestic (20 persen), belanja pemerintah (17 persen) dan net ekspor (2 persen). Sehingga pada tahun 2018 diprediksi konsumsi tetap menjadi motor penggerakn pertumbuhan ekonomi, namun diharapkan kontribusi investasi meningkat karena adanya pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA). Sedangkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, investasi (PMA dan PMDN) di DIY perlu didorong dengan iklim investasi yang dapat menarik investor secara signifikan.
Sesuai dengan Visi dan Misi Gubernur DIY 2017-2022, maka pembangunan ekonomi DIY focus ke wilayah selatan yaitu Kabupaten Gunungkidul, Kabupaten Bantul, dan Kabupaten Kulon Progo. Ketiga daerah tersebut memiliki potensi ekonomi yang propektif dengan wisata pantai, ekonomi kreatif,, UMKM dan NYIA. ®HumasWidyaMataram