Skenario pesimistik dan skeptis tentang perekonomian dunia 2023 digambarkan banyak negara dan lembaga-lembaga ekonomi internasional, dimana kekhawatiran tentang merosotnya ekonomi global ini sudah mulai sejak terjadi invasi Rusia ke Ukraina, dua negara yang memiliki beberapa sumber daya yang signifikan terhadap ekonomi global, utamanya lagi ekonomi Eropa, yang telah menimbulkan inflasi akibat naiknya harga minyak dan gas dunia serta komoditas pangan utama, yakni gandum yang banyak dipasok dua negara yang berseteru tersebut. Hal ini disampaikan oleh Rektor Universitas Widya Mataram (UWM), Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec. dalam diskusi terbatas dengan tema “Outlook Ekonomi Indonesia 2023: Bagaimana Proyeksi Ekonomi Yogyakarta Tahun Depan?” pada Kamis (5/1) di Kampus Terpadu UWM, Banyuraden, Sleman, Yogyakarta.
Mantan Ketua APTISI ini mengemukakan jika melihat kinerja ekonomi 2022, maka seharusnya tidak perlu mengalami ketakutan berlebihan, seperti yang disampaikan sebagian petinggi Indonesia. “Ketakutan berlebihan bisa menjadi rantai kepanikan publik, sehingga sesuatu yang sebetulnya biasa saja, menjadi direspons secara berlebihan, terlebih jika ketakutan ini menjadi acuan otoritas moneter dan fiskal sehingga keliru mengambil kebijakan kontraproduktif, misalnya Bank Indonesia, mengantisipasi dengan kebijakan uang ketat, menaikkan suku bunga acuan (BI 7 days reverse repo rate) yang terus-menerus hingga 5,50% pada minggu ke-3 Desember lalu,” tambahnya.
Lebih lanjut, anggota Paramparapraja ini menambahkan bahwa diperlukan membangun optimisme di tengah ketidakpastian dan keprihatinan global, namun sikap eling lan waspodo, prudent, tetap selalu dilakukan, sehingga tidak over-confidence atau takabur dengan berbagai sinyal yang terlihat masih positif bagi perekonomian Indonesia dalam tahun 2023 ini. “Berbagai sinyal positif tersebut harus diikuti dengan langkah-langkah kebijakan ekonomi – fiskal maupun moneter, serta regulasi-regulasi pendukungnya, oleh karena itu, kebijakan tetap perlu difokuskan bagaimana pertumbuhan ekonomi tersebut lebih berkualitas, pro poor, pro employment, pro Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), sehingga tidak terjadi anomali dalam pertumbuhan ekonomi ini,” ungkapnya.
Selanjutnya, Prof Edy menunjukkan bahwa potensi yang akan mendorong pertumbuhan ekonomi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) adalah sektor pariwisata dan pendidikan. “Tahun 2023 aktivitas pendidikan, sudah akan berjalan normal dan penuh melaksanakan pembelajaran offline sehingga para pelajar-mahasiswa perantau juga sudah kembali beraktivitas di Yogyakarta, ini jelas akan menaikkan konsumsi berbagai barang dan jasa DIY, yang merupakan komponen utama pertumbuhan ekonomi,” tambahnya. “Di sisi lain, dengan dicabutnya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) akan secara signifikan meningkatkan mobilitas manusia yang berwisata ke DIY, dan juga untuk aktivitas-aktivitas MICE -- meeting (pertemuan), incentive (bonus), convention (pertemuan), exhibition (pameran), yang sejak lama DIY sudah menjadi sasaran tujuan,” pungkasnya.
Humas@UWM