Home
news
Minim Toleransi, Dosen Prodi Ilmu Komunikasi UWM Ajak Diskusi Kelompok Waria

Minim Toleransi, Dosen Prodi Ilmu Komunikasi UWM Ajak Diskusi Kelompok Waria


Selasa, 2021-06-22 - 11:57:26 WIB

Minimnya toleransi untuk waria atau sekelompok individu yang secara khsusus mengalami perbedaan identitas gender mengakibatkan terbatasnya pilihan pekerjaan yang dapat ditekuni oleh kelompok tersebut. Waria dikontruksikan sebagai kelompok minoritas yang sering menjadi polemik di lingkungan sosial dan dianggap bertentangan dengan aturan, norma dan moral di masyarakat.

Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Univeristas Widya Mataram (UWM), Dyaloka Puspita Ningrum,S.I.Kom.,M.I.Kom mengungkapkan hal itu usai melaksanakan pengabdian kepada masyarakat di Pondok Pesantren Waria Al-Fatah Kotagede Yogyakarta. Pengabdian dilaksanakan dengan tema Upaya Memperkuat Solidaritas Sosial Untuk Keharmonisan Kelompok Marginal di Pondok Pesantren Waria Al-Fatah Kotagede Yogyakarta. Aktivitas yang dilakukan ialah menggelar focus group discussion untuk mengidentifikasi masalah yang dihadapi para santri di pondok pesantren tersebut.

“Dalam pengabdian ini juga turut memberikan informasi terkait literasi konten di media digital sebagai bagian dari promosi bisnis dan branding yang dapat dimanfaatkan anggota kelompok waria untuk tetap bertahan hidup dan memulihkan keadaan perekonomian di era sekarang ini,” terang Dyaloka, Selasa (22/6/2021).

Menurut Wakil Dekan II Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UWM itu, pada umumnya ada beberapa profesi yang biasa dilakukan oleh para waria dalam mencukupi kebutuhannya, mulai dari pekerja salon, penjahit, pengamen, tukang masak, tukang pijat atau bahkan sebagai pekerja prostitusi di jalanan. Latar belakang tersebutlah yang juga semakin menambah deretan stigma negatif pada kelompok waria di Indonesia.

“Krisis identitas yang dimiliki para waria menghadirkan banyak hambatan sosial yang kadang hanya dipandang sebelah mata dan akhirnya berorientasi pada sebuah diskriminasi. Pandemi Covid-19 yang terjadi bahkan turut berdampak terhadap keberlangsungan hidup para santri di pondok pesantren waria Al-Fatah karena satu per satu dari mereka mulai mengalami kehilangan pekerjaan,” papar Dyaloka.

Dirinya mengungkapkan, kelompok waria bersinggungan dengan nilai-nilai humanis tentang bagaimana memanusiakan manusia. Kelompok ini perlu mendapat dukungan tanpa adanya perbedaan antara satu sama lain sebagai Warga Negara Indonesia yang utuh berdasarkan isi Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 28D mengenai Hak Asasi Manusia.

Keberadaan Pondok Pesantren Waria Al-Fatah berusaha untuk mengembalikan citra positif kelompok marginal tersebut di tengah-tengah masyarakat. Dyaloka menjelaskan selama pengabdiannya melibatkan 22 orang peserta yang terdiri dari anggota pengurus di tempat itu maupun beberapa mahasiswa internal yang sengaja dilibatkan juga sebagai partisipan.

©HumasWidyaMataram


Share Berita


Komentari Berita