oleh: Prof. Dr. Ir. Ambar Rukmini, M.P., dosen Program Studi Teknologi Pangan Fakultas Sains dan Teknologi
Setiap tanggal 21 April, bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini, mengenang sosok Raden Ajeng Kartini sebagai pelopor emansipasi perempuan. Kartini tidak hanya dikenal sebagai pejuang pendidikan bagi kaum perempuan, tetapi juga sebagai simbol semangat perubahan dan kemandirian. Dalam konteks modern, semangat Kartini perlu dihidupkan kembali melalui berbagai bidang kehidupan, salah satunya melalui teknologi pangan.
Teknologi pangan adalah bidang yang terus berkembang seiring dengan tantangan global seperti ketahanan pangan, perubahan iklim, dan peningkatan populasi. Namun lebih dari itu, teknologi pangan juga membuka peluang besar bagi perempuan untuk terlibat aktif dalam inovasi, produksi, dan distribusi pangan. Inilah momentum untuk merefleksikan semangat Kartini dalam bingkai teknologi pangan: bagaimana perempuan tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga pencipta dan pemimpin dalam sektor ini.
Kartini dalam surat-suratnya menunjukkan ketertarikan besar pada isu kesehatan dan kesejahteraan masyarakat, termasuk pangan. Ia menyadari bahwa ketidaktahuan dan keterbatasan akses terhadap informasi menjadi salah satu akar ketertinggalan perempuan. Jika Kartini hidup di zaman ini, barangkali ia akan mendorong para perempuan untuk menjadi ilmuwan pangan, wirausahawan pangan lokal, atau inovator di bidang ketahanan pangan berbasis teknologi.
Di era Revolusi Industri 4.0 dan menuju Society 5.0, teknologi pangan berkembang pesat. Inovasi seperti pangan fungsional, bioteknologi pangan, pengemasan cerdas, hingga pertanian presisi membuka ruang luas untuk peran perempuan. Di berbagai daerah, perempuan mulai terlibat dalam diversifikasi produk pangan lokal, pemanfaatan hasil pertanian menjadi produk bernilai tambah, hingga membangun usaha rintisan (startup) berbasis pangan dan teknologi.
Namun, tantangan masih ada. Kesenjangan akses terhadap pendidikan dan pelatihan di bidang teknologi pangan masih menjadi hambatan, terutama bagi perempuan di pedesaan. Di sinilah peran pemerintah, akademisi, dan masyarakat sangat penting untuk menciptakan ekosistem yang mendukung. Program pelatihan, inkubasi bisnis pangan, hingga pemberdayaan UMKM perempuan berbasis teknologi perlu diperluas dan difokuskan pada peningkatan kapasitas perempuan dalam mengolah dan memasarkan produk pangan secara inovatif dan berkelanjutan.
Hari Kartini harus menjadi momen refleksi: apakah kita sudah memberikan ruang yang cukup bagi perempuan untuk berkembang di bidang teknologi pangan? Sudahkah perempuan didorong untuk menjadi pemimpin laboratorium pangan, kepala unit produksi, atau penggagas sistem pangan berkelanjutan? Semangat Kartini bukan hanya soal akses, tetapi juga tentang keberdayaan dan kepemimpinan.
Tak sedikit contoh inspiratif yang bisa kita temukan hari ini. Perempuan-perempuan Indonesia mulai memimpin inovasi pangan lokal berbasis kearifan tradisional, seperti pembuatan yogurt dari bahan lokal, pengembangan pangan fermentasi, hingga riset tentang antioksidan alami dari tanaman herbal. Dengan dukungan teknologi, mereka mampu bersaing di pasar nasional maupun internasional. Inilah bentuk nyata dari emansipasi dalam konteks kekinian—perempuan yang berdaya, mandiri, dan mampu memberikan kontribusi besar melalui pangan.
Akhirnya, memperingati Hari Kartini bukan sekadar mengenakan kebaya atau mengadakan lomba memasak. Lebih dari itu, ini adalah saat yang tepat untuk mendorong partisipasi aktif perempuan dalam sains dan teknologi, termasuk di sektor pangan. Mari kita jadikan semangat Kartini sebagai sumber inspirasi untuk membangun sistem pangan yang inklusif, inovatif, dan berkelanjutan—dengan perempuan sebagai aktor utama perubahan.