Home
news
Menyingkap Fenomena Parasosial Era Digital

Menyingkap Fenomena Parasosial Era Digital

news Rabu, 2022-07-06 - 11:55:00 WIB

Menyingkap Fenomena Parasosial Yang Kian Kompleks Di Era Digital

Oleh Shulbi Muthi Sabila Sp,S.I.Kom,M .I.Kom*

 

Seperti yang kita ketahui, media sosial yang kini mewadahi segala bentuk aktivitas penggunanya selama 24 jam nonstop menjadi sebuah penawaran yang menarik dalam membangun hubungan dan kedekatan dengan sesama pengguna. Seiring waktu, tidak hanya kedekatan yang terjalin namun bentuk keterlibatan sesama penggunapun kian kencang terutama dengan hadirnya internet hingga situs-situs penggemar untuk memenuhi kebutuhan audiens.menimbulkan rasa kedekatan dengan karakter atau selebriti meskipun belum pernah bertemu secara langsung pada kehidupan nyata.

Gejolak rasa yang dialami inilah yang disebut hubungan parasosial, dimana adanya ikatan satu sisi yang berkelanjutan dengan figur media. Richard Wohl dan Donald Horton pertama kali memperkenalkan konsep hubungan parasosial ini pada tahun 1950-an. Meskipun hubungan tersebut hanyalah sepihak, namun secara psikologis serupa dengan hubungan sosial di kehidupan nyata.

Adakalanya ketika audiens media merasa seperti sedang berinteraksi atau terbawa hanyut ke dalam suasana figure media,selebriti, tokoh fiksi, disaat itulah seseorang mengalami interaksi parasosial.

Dalam beberapa kasus audiens yang menjadi pengagum figur media pun merasa seolah-olah dirinya adalah salah satu bagian dari kehidupan public figure dan merasa terlibat, sehingga apapun aktivitas public figure tersebut berada dalam “genggaman” si penggemar. Interaksi parasosial inilah yang pada akhirnya dapat menciptakan sebuah “ikatan”,bisa positif atau negatif.

Jika kita kaji secara psikologis, meskipun gagasan mengenai hubungan parasosial ini tampak aneh bahkan mengerikan dan tidak biasa pada awalnya, penting untuk diingat bahwa bagi Sebagian besar konsumen media, hal ini adalah suatu reaksi yang normal saat melihat sosok yang dikagumi di layar. Namun, hal ini juga dapat berdampak negative jika audiens memasuki ruang imajinasi yang terlalu dalam, persepsi mereka akan menyebabkan over reaction terhadap situasi yang seolah-olah nyata. Hal-hal seperti ini salah satunya ditemukan pada sejumlah penikmat drama dan musik korea.

Tertawa,menangis,histeris,terbawa perasaan  ketika menyaksikannya, itu semua adalah kumpulan pengalaman parasosial, pengalaman ketika kita mengkonsumsi media, sehingga kita dapat merasa terikat dan melakukan interaksi meski hanya satu arah dan tak terbalas. Dari sinilah muncul kepuasan penggemar dengan mendapatkan informasi yang dijadikan bahan pembicaraan untuk menyalurkan emosi, kekosongan hati, dan hiburan di kala beratnya rutinitas pekerjaan. Perilaku yang intens inilah yang dapat menghantarkan seseorang menjadi pemuja public figure tersebut dan perilaku tersebut dapat menimbulkan efek atau dampak yang dapat disadar maupun tidak oleh seseorang.

Menurut Hoffner, terdapat beberapa dampak dari adanya interaksi parasosial. Pertama Senses of Companionship, dimana hubungan parasosial ini dapat secara emosional  memberikan kesan pertemanan dan individu merasa puas akan kebutuhannya dalam interaksi sosial contohnya influencer yang merespon pertanyaan dari followersnya, hal-hal seperti ini dapat menimbulkan perasaan diperhatikan.

Yang kedua parasosial dapat menimbulkan rasa persahabatan semu anatar individu dengan selebriti favoritnya, individu seolah-olah berhubungan langsung dengan indola mereka layaknya dengan teman. Kita dapat menemukan kasus ini pada penggemar-penggemar yang kerap menuliskan komentar atas aktivitas atau postingan dari idolanya.

Ketiga, sebagai panutan dalam tingkah laku, munculnya rasa ketergantungan individu terhadap figur media akan membuat individu memilih figure tersebut sebagai role model atau acuan dalam bertingkah laku sehingga hal ini dapat mempengaruhi kehidupan individu baik secara positif maupun negative tergantung pada kepribadian dari figur idola, hal ini juga dapat kita temukan dalam rutinitas selebriti seperti rajin berolahraga dan makan sehat yang diikuti oleh beberapa orang sebagai contoh positif yang dapat ditiru.

Keempat adanya interaksi yang kuat antara penggemar dan selebriti favoritnya yang dapat menimbulkan gejala patologis dimana individu juga turut melakukan semua yang dilakukan oleh idolanya, bahkan sampai pada tingkah laku yang buruk dari idolanya, maka dari itu di era media sosial saat ini munculah istilah influencer, dimana seorang influencer adalah seseorang yang dapat memberikan pengaruh di masyarakat. Influencer biasanya digunakan dalam kegiatan strategi marketing untuk meningkatkan brand awareness, namun disisi lain influencer inilah yang nantinya juga akan memberikan dampak kepada masyarakat,sehingga influencer diharuskan menampilkan kegiatan-kegiatan yang dapat ditularkan secara baik dan positif. Dikarenakan efek ini adalah salah satu yang juga berbahaya bagi pengguna media di berbagai kalangan.

Yang terakhir adalah efek identitas personal, yaitu penonton mengidentifikasikan situasi dan tingkah laku figur favoritnya yang ditemukan melalui media dan dunia nyata untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga hal ini dapat membantu individu dalam menemukan identitas dirinya sehingga individu tersebut menermuka peran dalam masyarakat. hal ini dapat  kita fokuskan pada pencarian jati diri seorang remaja, maka dari itu usia remaja sangat rentan terpengaruh dari apa yang ia saksikan.

Dengan menyingkap fenomena parasosial inilah sekiranya kita dapat melakukan self control atas sesuatu atau tindakan yang kita lakukan. Satu sisi memiliki sosok idola dapat berdampak baik pada psikologis seseorang , pasalnya hal tersebutnya merupakan proses perkembangan untuk membentuk suatu identitas dan identifikasi diri seseorang, namun juga dapat berdampak buruk jika mengidolakannya secara ekstrim dan menimbulkan over reaction bahkan halusinas mengganggap hal tersebut terjadi di dunia nyata. Karena mengidolakan seseorang memiliki fungsi psikologis tersendiri, sekiranya dalam hal ini kita dapat lebih bijak.

 *Penulis Dosen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial Politik Universitas Widya Mataram

 


Share Berita