Sebagai mahasiswa harus mampu memberikan sumbangsih nyata bagi dunia pendidikan dan untuk kehidupan masyarakat secara luas. Mahasiswa juga harus mewujudkan fungsi moral dalam kehidupan bermasyarakat. Disamping itu, mahasiswa adalah agent of control yang harus peduli dengan fenomena yang terjadi dengan cara aktif melakukan pengamatan, pengkajian persoalan dan menyampaikan kritik kepada pemangku kebijakan. Hal tersebut menjadi perhatian khusus bagi mahasiswa Universitas Widya Mataram (UWM). Mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahaisiwa (BEM) tersebut menunjukkan perannya sebagai agent of study dan agent of change dengan membuka ranah diskusi untuk membedah permasalahan yang sering menjadi latar penyebab kegelisahan masyarakat. BEM UWM mengemas kegiatan diskusi dengan mengangkat persoalan tentang Yogyakarta New International Airport. Acara yang digawangi oleh Rahmad, Ketua BEM UWM tersebut digelar pada Jum’at (4/05/2018) di Pendapa Agung UWM.
Tema tersebut sengaja diangkat mengingat adanya pro dan kontra dalam implementasi kebijakan pembangunan bandara baru di Kabupaten Kulon Progo, mulai dari mahasiswa, akademisi, kelompok petani Temon dan beberapa kelompok lainnya. Dari beberapa persoalan yang muncul dari kelompok petani salah satunya adalah kegelisahan petani untuk masa depan karena dampak pembangunan yang akan menggeser lahan pertanian mereka. Berkaitan administrasi atau legal standing yang cacat menurut kalangan mahasiswa juga menjadi pendorong untuk lebih mendalami persoalan bandara tersebut. Menampik persoalan tersebut, disisi lain pembangunan bandara baru di Kulon Progo justru akan memberikan akses yang seluas-luasnya bagi masyarakat dalam banyak bidang seperti penyerapan tenaga kerja, peningkatan sektor jasa, industri dan pariwisata. Hal tersebut akan mendongkrak roda perekonomian masyarakat untuk mengantarkan pada taraf kesejahteraan sebagaimana harapan pemerintah Kabupaten Kulon Progo.
BEM UWM mewadahi diskusi tersebut dengan nama Mataram Intelectual Club (MIC). Ruang diskusi ini akan menyasar seluruh mahasiswa UWM untuk mengeksplorasi ketajamana ilmu dan membuka cakrawala pengetahuan para mahasiswa. Dalam pelaksanaannya BEM UWM menghadirkan beberapa narasumber yang sudah memiliki kepakaran dalam melihat persoalan pembangunan bandara tersebut. Beberapa narasumber tersebut antara lain; Irsyad Ade Irawan, S.IP., MA (Staff Departemen Demokrasi dan Politik Yayasan Satunama), Drs. Samsul Bahri, MM (Dosen Ekonomi Pembangunan UWM), Suryawan Raharja, SH (Ketua Lembaga Ombudsman DIY), dan Dr. Ridwan, SH., M.Hum (Dosen Hukum Tata Negara UII). Selanjutnya, acara diskusi dibuka oleh Wakil Rektor III UWM, Dr. Jumadi, SE., MM. Dalam sambutannya Dr. Jumadi, SE., MM menyampaikan bahwa Yogyakarta sebagai salah satu tujuan wisata terkenal di Indonesia sudah saatnya memiliki fasilitas bandara yang bertaraf internasional mengingat saat ini hanya mampu melayani penerbangan Malaysia dan Singapura. Disisi lain,bahwa bandara Yogyakarta sudah over kapasitas. Saat ini kapasitas penerbangan hanya mampu mengangkut 1,8 Juta per tahun, sedangkan jumlah penumpang sudah mencapai 7,8 juta. Hai ini menegaskan bahwa bandara baru seharusnya segera terwujud.
Kawasan Yogyakarta sendiri akan menjadi destinasi seperti Bali jika fasilitas itu terpenuhi, mengingat identitas pariwisata akan sangat dipengaruhi sarana atau fasilitas transportasi seperti bandara untuk wisatawan manca Negara. Para dekan fakultas dan beberapa dosen juga turut hadir dalam acara tersebut. ®HumasWidyaMataram