Home
news
Memaknai Natal dengan Pengharapan dan Cinta Kasih

Memaknai Natal dengan Pengharapan dan Cinta Kasih

news Senin, 2025-12-29 - 10:20:32 WIB

Oleh: Edy Chrisjanto, S.E., S.H., M.H., Dosen Program Studi Hukum, Fakultas Hukum, Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta

Natal diperingati sebagai hari kelahiran Yesus Kristus, Putra Allah dan Juru Selamat umat manusia, yang senantiasa disambut dengan penuh sukacita oleh umat Kristiani di seluruh dunia. Memasuki bulan Desember, kemeriahan Natal sudah terasa melalui berbagai simbol dan aktivitas, mulai dari promosi christmas sale di pusat perbelanjaan, dekorasi ornamen Natal yang gemerlap, hingga beragam perayaan seperti Natal sekolah minggu, remaja, pemuda, dewasa, dan lansia. Semua itu menciptakan suasana kegembiraan yang berulang setiap tahun, namun sejatinya makna Natal tidak berhenti pada perayaan lahiriah semata.

Natal seharusnya dimaknai lebih mendalam sebagai momentum spiritual yang sakral, yakni pembaruan dan peneguhan iman atas kasih Allah bagi umat manusia. Melalui peristiwa kelahiran Yesus Kristus, manusia yang dahulu hidup dalam kegelapan dosa dan tanpa pengharapan dipulihkan, diubahkan, serta dianugerahi keselamatan dan kehidupan kekal. Firman Tuhan dalam Yohanes 3:16 menegaskan bahwa begitu besar kasih Allah kepada dunia ini sehingga Ia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal agar setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan memperoleh hidup yang kekal.

Dalam realitas kehidupan, manusia kerap menghadapi kegelisahan, kecemasan, ketakutan, dan keterpurukan yang menimbulkan pesimisme terhadap masa depan. Namun, kehadiran Kristus membawa pengharapan sebagaimana dinyatakan dalam Yohanes 10:10 bahwa Ia datang agar manusia memiliki hidup dalam segala kelimpahan. Oleh karena itu, umat diajak untuk tidak takut dan tidak bimbang, sebab Kristus adalah Emmanuel, Allah yang senantiasa menyertai. Dengan bersandar sepenuhnya kepada Tuhan dan bukan pada pengertian manusia sendiri, setiap orang dapat mengalami kuasa-Nya yang sanggup melakukan jauh lebih banyak dari apa yang didoakan dan dipikirkan, sebagaimana tertulis dalam Efesus 3:20.

Selain pengharapan, Natal juga mengajarkan nilai kerendahan hati dan kesederhanaan. Kelahiran Yesus yang jauh dari kemewahan, bahkan di kandang domba, menjadi simbol bahwa Tuhan menolak kesombongan dan keangkuhan. Tidak ada satu pun hal yang pantas disombongkan oleh manusia, baik kekayaan, kecerdasan, maupun popularitas, sebab semua itu merupakan anugerah Tuhan. Banyak contoh dalam kehidupan publik menunjukkan bahwa tanpa integritas, semua pencapaian dapat runtuh seketika, ketika kebanggaan diri berubah menjadi kehancuran akibat hilangnya nilai moral.

Lebih dari itu, Natal mengandung pesan cinta kasih yang bukan sekadar kata-kata, melainkan diwujudkan melalui tindakan nyata. Cinta sejati selalu menuntut pengorbanan, sebagaimana ungkapan bahwa lebih berbahagia memberi daripada menerima. Cinta kasih yang hanya diucapkan tanpa perbuatan adalah kesia-siaan belaka. Oleh karena itu, perayaan Natal seharusnya menggerakkan setiap orang untuk menghadirkan kasih melalui kepedulian, pengorbanan, dan pelayanan kepada sesama.

Akhirnya, melalui perayaan Natal ini, setiap insan diharapkan mampu menumbuhkan semangat memberi pengharapan, menjadi terang bagi lingkungan sekitar, memberikan arah kehidupan, serta menghadirkan kehangatan dan kepedulian sosial melalui aksi nyata. Dengan demikian, Natal tidak hanya dirayakan sebagai tradisi tahunan, tetapi dihidupi sebagai peristiwa iman yang terus membarui kehidupan. Selamat Hari Natal


Share Berita