Sebagai bagian dari institusi pendidikan di kota berbudaya Yogyakarta, Universitas Widya Mataram (UWM) memiliki visi menjadikan kampus yang unggul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi berbasis budaya. Atas dasar visi tersebut, UWM menyelenggarakan pendidikan yang selalu memberikan nilai-nilai kebudayaan pada setiap ilmu pengetahuan, khususnya kebudayaan Nusantara. Pandangan tersebut diperkuat dengan keragaman mahasiswa yang berasal dari seluruh wilayah Indonesia, sehingga berbagai nilai-nilai kebudayaan tiap daerah membaur dan menjadi satu dalam wilayah UWM.
UWM tidak hanya berperan pada pendidikan di kalangan mahasiswanya saja, melainkan juga menyelenggarakan kerjasama dengan berbagai pihak, termasuk organisasi dengan luar negeri. Dalam kesempatan kali ini, UWM bekerja sama dengan pihak CORE dan IKCS (Indonesia Korea Cultural Studies) dalam program Korean Student Internship Program. Peserta internship yaitu: Lee Sujin (Dept. of Europe Union, Dong-A University) dan Kim Hye Min (Bussiness Administration, Busan University) yang berkesempatan mengikuti serangkaian program yang dirumuskan oleh UWM selama mereka tinggal di Yogyakarta.
Pada hari Selasa (23/1/2018), mereka berdua mempelajari seluk-beluk dan penggunaan pakaian jenis kebaya sebagai busana tradisional, khususnya dari budaya Jawa. Kebaya tidak hanya dinilai sebagai bentuk busana tradisional yang terkikis zaman, melainkan mampu bertahan dalam era globalisasi sekarang. Penggunaan kebaya masih mudah dijumpai dalam berbagai lini kehidupan tanpa memandang umur maupun kegiatan. Selain mempelajari nilai kebuduyaan dalam Kebaya, mereka berdua juga berkesempatan untuk menggunakan Kebaya tersebut melalui arahan Wakil Rektor I UWM, Dr. Ir. Ambar Rukmini, MP yang memiliki pengetahuan mendalam mengenai nilai-nilai kebudayaan Jawa, khususnya Yogyakarta. Para mahasiswa UWM: Madha Wirahuda dan Nur Fitriana juga ikut mendampingi kedua mahasiswa asing tersebut hingga seusai pembelajaraan.
Menurut Lee Sujin dan Kim Hye Min, busana tradisional ini sangat menarik dan merasa cocok digunakan oleh mereka. Selain nilai kebudayaan dalam Kebaya, mereka berdua juga diajarkan untuk berjalan yang sesuai dengan norma yang berlaku di Yogyakarta hingga saat ini, khususnya pada lingkungan Keraton/Kesultanan Yogyakarta. Melalui cara jalan tersebut, mereka mengetahui bahwa nilai kebudayaan Jawa, terutama Yogyakarta dan lingkungan Kesultanan mementingkan pada kehidmatan, rasa hormat, dan sopan santun terutama kepada orang tua serta berperilaku untuk tenang dan tidak terburu-buru dalam setiap aspek perilaku kehidupan. ®HumasWidyaMataram