Salah satu tradisi akademik universitas yakni Studium Generale senantiasa dijaga sampai saat ini melalui kuliah umum dengan mendatangkan pemikir-pemikir dan narasumber berkualitas yang dapat membantu membuka cakrawala berpikir dan memperkaya penalaran seluruh sivitas akademika.
Hal itu disampaikan oleh Matheus Gratiano Mali, MPA Ketua Panitia Studium Generale Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) Universitas Widya Mataram (UWM), Jumat (17/9/2021). Studium General secara virtual untuk menyambut mahasiswa baru sekaligus membuka tahun ajaran 2021/2022 dengan mengangkat tema “Membangun Karakter Budaya Politik Dalam Berdemokrasi”. Acara ini turut dihadiri para dosen, seluruh mahasiswa aktif FISIPOL dan peserta umum. Komunikasi serte terbuka bagi peserta umum lainnya dari luar UWM. Narasumber yang dihadirkan yaitu Dr. Abdul Gaffar Karim, MA. (Dosen dan Ketua Departemen Politik dan Pemerintahan FISIPOL UGM).
“Tujuan dari Studium General ini untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa terkait bidang keahlian dan bidang lainnya dari narasumber pakar yang diundang untuk memaparkan ide, pengalaman, konsep dan wawasan dan juga bertujuan memberikan wawasan kepada mahasiswa tentang budaya politik di Indonesia serta bagaimana membangun karakter budaya politik dalam berdemokrasi,” terang Matheus.
Acara dibuka oleh Dekan FISIPOL, Dr. As Martadani Noor, MA. Dalam sambutannya, Martadani mengatakan, karakter budaya politik bangsa yang berlandaskan dengan nilai-nilai demokrasi juga terkandung dalam visi-misi UWM yang sebagai kampus budaya yang juga diturunkan pada visi dan misi FISIPOL UWM.
“Nilai-nilai demokrasi merupakan hal penting untuk digunakan dalam membangun budaya politik yang bersih dalam sebuah kelembagaan sosial masyarakat,” kata Dekan FISIPOL itu.
Dalam pemaparan materinya, Dr. Abdul memulai dengan meminta peserta mengisi sebuah kuisioner untuk melihat sejauh mana pemahaman peserta tentang demokrasi saat ini. Dari hasil jawaban kuisioner itu menjadi pembahasan dan diskusi selama kuliah umum berlangsung.
Dalam uraian penjelasannya, budaya politik adalah hasil berpikir dari setiap individu atau pelaku politik sebagai apa yang ditekankan oleh agen-agen edukator politik. Sementara itu sesuai dengan pengertian demokrasi itu sendiri bahwa kekuasaan dan kedaulatan ada ditangan rakyat, maka sudah seharusnya rakyat harus memegang peranan penting dalam melanjutkan proses demokrasi dari negara ini melalui aktivitas pengawasan terhadap kinerja pemerintah serta melaporkan persoalan-persoalan publik yang ada disekitarnya kepada pemerintah.
“Inilah yang merupakan sebuah kultur yang harus dibangun oleh setiap warga negara,” tegas Dr. Abdul.
©HumasWidyaMataram