Home
news
Lahir dari Kraton UWM Layak Jadi Pusat Budaya

Lahir dari Kraton UWM Layak Jadi Pusat Budaya

news Jumat, 2022-02-18 - 11:21:35 WIB

Penghageng KHP Kridhomardowo Kraton Ngayogyakarta KPH Notonegoro berpendapat bahwa Universitas Widya Mataram perlu meneguhkan identitas titel kampus budaya.

“Sebagai kampus yang lahir dari rahim ibu kandung Kraton Yogyakarta, budaya harus menjadi bagian penting dalam keseharian belajar mengajar di UWM,” kata dia saat berbicara pada Refleksi Menuju Pancawindu Widya Matara di Pendopo Agung nDalem Mangkubumen, Kamis (18/2/2022).

Penegasan identitas budaya menjadi penting untuk lulusan UWM. “Kampus ini telah memahami beragama kriteria lulus. Dari segi budaya, kriteria lulusan UWM apa saja? Apakah santun tutur kata, paham sejarah? Atau apa lagi?.”

Dalam konteks identitas budaya itu, peran kelembagaan untuk mengelola budaya sangat diperlukan dan posisinya strategis.

v“Saya siap konstribusi, UWM mau bagaimana soal budaya? Ini menjadi dasar supaya UWM makin jelas identitas budayanya.”

Mencari identitas

Menuju ke usia 40 tahun, ajakan Pangeran Noto sangat jelas maknanya bahwa UWM harus meneguhkan identitas kampusnya. Dengan tagline kampus budaya, UWM telah memiliki modal sosial untuk meneguhkan kampus ini telah memiliki identitas. Bagaimana identitas itu dioperasionalkan menjadi persoalan lain.

Dalam proses pencarian itu, pertunjukan seni dalam bingka pembukaan menuju pancawindu merupakan pintu masuk untuk mengoperasionalkan visi kampus berbudaya. Sejauh ini terdapat mata kuliah dasar umum (MKDU) yang dirancang universitas dengan titel Kewidyamataraman. Mata kuliah ini bagian operasional identitas kampus berbudaya.

Pertunjukan seni di Pendopo Agung nDalem Mangkubumen, Kamis (17/2/2022), makin meneguhkan sebagai bagian strategi membumikan identitas kampus. Pentas seni kolosal di sela-sela seminar refleksi munuju pancawisuda, kolosal anak-anak muda pada siang dan petang hari, sampai pada puncak pertunjukkan teri Srimpi Irim-irim merupakan proses bahwa identitas budaya tidak sebatas konsep dan angan-angan, lebih dari itu, ada praktik budaya yang disajikan.

Seperti diberitakan sebelumnya, para kawula muda yang pentas menuju 40 tahun UWM adalah Musikalisasi Puisi UKM Teater Dokumen UWM, Tari Tobelo Tendik UWM. Kemudian Symphoni Nusantara Fiza Violin Sanggar Sulam , Happy Pop “Mendung Tanpa Udan” Anggin and Frienstic, Tari Sri Panganti (Devi Tendik UWM), Akustik Love Song dari Risa and Friend Akustik (Tendik UWM), Perform Ansamble Musik Sanggar Amari I dan Perform Ansamble Musik Sanggar Amari II.

©Humas WidyaMataram


Share Berita