Home
news
Kepemimpinan Etis Dalam Bisnis Pariwisata

Kepemimpinan Etis Dalam Bisnis Pariwisata

news Rabu, 2023-11-15 - 09:01:40 WIB

Kepemimpinan etis merupakan salah satu gaya kepemimpinan yang cukup mendapat perhatian dari beberapa ilmuwan maupun praktisi, karena memberikan penekanan pada kesesuaian terhadap norma dan nilai-nilai yang diakui dan juga memberi penekanan terhadap prinsip-prinsip seperti keadilan, kejujuran, akuntabilitas dan kepercayaan. Dengan mengedepankan etika, pemimpin mempromosikan integritas yang kuat. Itu mendorong bawahan untuk menaruh kepercayaan tinggi pada pemimpin dengan demikian pemimpin yang etis bisa membawa perusahaan mengembangkan budaya dan nilai ke arah yang lebih baik  Hal ini disampaikan oleh Utami Tunjung Sari, S.E., M.Sc. yang merupakan dosen Program Studi (Prodi) Kewirausahaan Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Widya Mataram (UWM) di Kampus Terpadu UWM, Banyuraden, Gamping, Sleman pada Rabu (15/11/2023).


Dalam bisnis pariwisata yang luas, paradigma kepemimpinan ini memainkan peran penting dalam membentuk lingkungan kerja dan, akibatnya, kesejahteraan karyawan. “Dampak dari penyimpangan etika, seperti gaji yang kurang, jam kerja yang diperpanjang, dan jadwal yang tidak menentu, melampaui neraca keuangan, dan menyusup ke dalam ranah emosional dan mental para pekerja, yang terlihat dari kelelahan, rasa tidak aman, kebingungan, dan kerentanan di antara karyawan,” tambahnya.
Selain itu, pentingnya kepemimpinan yang beretika menjadi semakin terasa di sektor pariwisata dan perhotelan karena tantangan unik yang dimilikinya. Industri ini menuntut keseimbangan yang rumit antara produksi dan penyampaian layanan secara simultan, ditambah dengan kebutuhan dan ekspektasi pelanggan yang terus berubah. 


“Tekanan terhadap karyawan semakin meningkat ketika mereka menavigasi lanskap yang penuh dengan ketidakpastian, ketidakamanan kerja, dan lingkungan kerja yang berpotensi tidak bersahabat. Para manajer di sektor ini menghadapi tugas yang menantang untuk mengelola kinerja dalam konteks yang sangat berbeda dengan industri lainnya,” kata dosen Sumber Daya Manusia (SDM) ini. 
Pertimbangan etika dalam pariwisata lebih dari sekadar tanggung jawab perusahaan; hal ini berkaitan erat dengan keberlanjutan industri dan kesejahteraan tenaga kerjanya. 


“Para pemimpin yang memprioritaskan praktik-praktik yang etis dan otentik tidak hanya berkontribusi pada budaya organisasi yang lebih sehat, tetapi juga menjaga kesejahteraan mental dan emosional karyawan mereka, dengan menyadari bahwa elemen manusia sama pentingnya dengan kesuksesan industri ini seperti halnya layanan yang diberikan,” tegas Utami.


Humas@UWM


Share Berita