Home
news
Kawal Demokrasi, Pemuda Harus Kritis dan Profesional

Kawal Demokrasi, Pemuda Harus Kritis dan Profesional

news Senin, 2019-12-09 - 16:59:03 WIB

 

Diskusi publik mahasiswa harus dijadikan ajang mencari ilmu dari para pemantik. Saat ini peran pemuda kurang menggaung dalam menyikapi situasi dan kondisi demokrasi di Indonesia. Demokrasi di Indonesia tidak sesuai dengan ruh demokrasi yang sesungguhnya dan lebih condong pada demokrasi liberal. 

Dr. Jumadi, SE., MM Wakil Rektor III Universitas Widya Mataram (UWM) menyampaikan statement tersebut dalam sambutan acara diskusi publik yang diselenggarakan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Padma pada Senin (9/12/2019) di Pendopo Agung UWM. Diskusi menghadirkan dua pemateri yakni Muhamad Rusdi, SH., M.Hum (Dosen Fakultas Hukum UWM) dan Arsyad Arifin, SH (Alumni UWM). Diskusi publik diikuti para mahasiswa lintas fakultas di lingkungan UWM dengan mengangkat tema Peran Pemuda dalam Melihat dan Mengawal Demokrasi. 

“Jika ingin melihat demokrasi Indonesia, maka harus dengan ketajaman penglihatan. kalau ingin mengawal maka sebagai mahasiswa harus kuat dulu. Ketajaman tersebut dapat dimaknai dalam aspek keilmuan, yakni theoretical. Sedangkan dalam mengawal demokrasi harus mengetahui kondisi demokrasi di Indonesia saat ini,” ujar Jumadi. 

Menurut Jumadi, idealnya mahasiswa harus belajar dengan benar untuk mempersiapakan kemampuan dalam melihat demokrasi sehingga menjadi mahasiswa yang profesional. Harapannya mahasiswa dapat menjadikan UKM Padma ini untuk mendukung proses akademik untuk dapat memberikan kontribusi optimal bagi pribadi mahasiswa, masyarakat dan negara. 

Ketua UKM Padma, Jufri menuturkan tema tersebut diangkat dengan latar belakang lemahnya peran pemuda terhadap kondisi. Ia berharap para generasi muda mengetahui posisi demokrasi Indonesia hari ini. 

“Kegiatan ini bukan hanya sekedar diskusi, lebih dari itu dimaksudkan agar mahasiswa UWM terus menjunjung tinggi nilai perjuangan, kepekaan dan sikap kritis melalui diskusi mahasiswa,” papar Jufri. 

Senada dengan itu, Dosen Pembina UKM Padma, Fuad, SH., MH., M.Kn menuturkan tema diskusi sedang menjadi tema hangat di berbagai forum dan perbincangan publik. 

“Diskusi di ruangan apapun tanpa eksekusi maka nihil hasilnya. Saya berharap ada hal yang dirumuskan dari diskusi ini,” kata Fuad lalu menambahkan menjadi mahasiswa kritis wajib hukumnya. Sikap kritis tidak hanya diasah dengan buku namun juga harus memiliki sensitivitas. 

Pada sesi diskusi yang di moderatori Casminto, salah satu pengurus UKM Padma, Rusdi sebagai pemateri pertama memaparkan konsep pemuda dan demokrasi dari prespektif historis. Menurut Rusdi, saat ini peran pemuda harusnya menjaga ideologi, menegakkan norma dan aturan, serta mengukuhkan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. 

“Demokrasi dapat dibidik melalui pelaksanaan pemilihan umum dan pemilihan kepala daerah. Dalam hal itu, mahasiswa dan pemuda harus andil melakukan pengawasan sebagai upaya mendorong tingkat partisipasi. Saat ini yang masih disayangkan adalah negara seringkali lalai terhadap potensi anak muda sehingga tidak mendapatkan kesempatan lebih luas untuk mengembangkan, ” ujar Rusdi. 

Dari perspektif lembaga, Arsyad menerangkan demokrasi dengan jelas. Seorang pemuda harus memiliki gaya kepemimpinan demokratis. Pemuda harus mampu menginternalisasikan nilai-nilai demokratis pada situasi sosial. 

“Saat ini Indonesia sedang diliputi situasi dimana para pemudanya pragmatis. Masyarakat terjebak pada pemahaman bahwa demokrasi selalu identik dengan tatanan politik seperti pemilihan, mobilisasi massa dalam kontestasi politik, dan pertentangan elit politik. Padahal lebih dari itu demokrasi harus dipahami dalam konteks permasalahan ketimpangan dan gejolak di masyarakat,” ujar Arsyad. 

Menurutnya, peran pemuda saat ini harus mampu mengorganisir dirinya, mengoordinasikan dengan lembaga dan mengaktualisasikan nilai-nilai demokrasi yang tidak bisa jauh dari aspek kesetaraan dan keadilan.

 

©HumasWidyaMataram


Share Berita