Bangsa Indonesia telah lama memiliki kesadaran sejarah. Bukti kesadaran ini ditunjukkan dengan banyaknya karya naskah sejarah yang bersebaran di berbagai daerah di Indonesia. Setelah kemerdekaan bangsa Indonesia, masalah sejarah nasional mendapat perhatian yang besar, terutama untuk kepentingan pembelajaran di sekolah, serta sarana pewarisan nilai-nilai perjuangan dan jati diri bangsa Indonesia. ???????
Hari Sejarah Nasional, yang diperingati setiap tanggal 14 Desember ini digagas pertama kali sejak tahun 2014 oleh berbagai kalangan masyarakat yang melibatkan asosiasi profesi, unsur pemerintah, komunitas ksejarahan, guru, dosen dan mahasiswa sejarah se-Indonesia diperingati sebagai Hari Sejarah Nasional. Hal ini merupakan upaya untuk menghidupkan kembali semangat kebangkitan historiografi Indonesia. Tanggal 14 Desember ini dipilih karena merupakan tanggal dimulainya Kongres Sejarah Nasional I yang diselenggarakan di Yogyakarta tahun 1957.
Universitas Widya Mataram (UWM) menempati kampus di nDalem Mangkubumen, yang merupakan cagar budaya dan bagian dari sejarah Indonesia. Pakar arsitektur tradisional dari Program Studi (Prodi) Arsitektur UWM, Dr. Satrio Hasto Broto Wibowo, S.T., M.Sc., menyampaikan bahwa nDalem Mangkubumen merupakan kompleks yang dibangun oleh Sultan HB VI untuk putra mahkota yang akan diangkat menjadi HB VII, dan pada masanya nDalem Mangkubumen diperuntukkan bagi calon raja, sehingga dari segi arsitektural hampir menyerupai keraton. Lebih lanjut, Satrio menambahkan bahwa setelah HB VII bertahta, maka fungsi nDalem Mangkubumen digunakan untuk tempat tinggal bagi para pangeran, antara lain Pangeran Mangkubumi dan Pangeran Juminah, yang setelahnya tidak lagi ditempati hingga tahun 1942.
Ketua Program Studi (Kaprodi) Arsitektur UWM, Desy Ayu Krisna Murti, S.T., M.Sc. menyampaikan bahwa nDalem Mangkubumen memiliki beberapa bagian, salah satunya adalah Bangsal Pringgitan. Tempat ini sempat digunakan untuk pertemuan Presiden Soekarno, PM India Jawaharlal Nehru dan Sri Sultan HB IX, sehingga dinamakan bangsal Soekarno-Nehru. Selanjutnya Desy menambahkan bahwa dari aspek fungsinya memiliki karakteristik yang cenderung sama dari awal hingga saat ini, yaitu sebagai ruang pertemuan yang bersifat umum. “Dari aspek konstelasi susunannya secara mikro memiliki kekhasan yang tidak dimiliki oleh pringgitan lainnya, seperti bentuk atap dan besaran ruang yang meskipun mengalami perubahan, namun tetap mempertahankan prinsip yang ajeg, yaitu tempat untuk pertunjukan dengan gaya arsitektur mengikuti arsitektur Keraton Yogyakarta”, tutupnya.
Humas@UWM