Di tengah kemajemukan masyarakat yang kaya akan kebudayaan, Universitas Widya Mataram (UWM) berusaha mencapai sebuah visi demi menjadikan perguruan tinggi yang unggul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi berbasis budaya. Kekayaan budaya yang dimiliki oleh Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) menjadikan beragam hasil pemikiran dan bentuk hasil cipta manusia sarat nilai-nilai luhur di dalamnya. Salah satu bentuk kebudayaan Indonesia yang telah diakui oleh dunia adalah batik. Dalam pemahamannya secara modern sekarang ini, batik lebih dikenal sebagai bentuk fashion kontemporer yang penggunaannya secara luas oleh beragam lapisan masyarakat dalam kesempatan apapun.
Kedatangan mahasiswa Korea dalam program Korean Student Internship Program di UWM, salah satunya dimanfaatkan untuk mengajarkan proses pembuatan Batik. Pada hari Rabu (24/01/2018), Lee Su Jin (Dept. of Europe Union, Busan University of Foreign Studies) dan Kim Hye Min (Bussiness Administration, Dong-A University) berkesempatan mendapatkan bimbingan dan arahan dari Drs. Sukirman, M. SnD Program Studi Arsitektur UWM, untuk mempelajari segala seluk-beluk batik, dimulai dari nilai dan filosofi yang terkandung dalam pemaknaan batik kemudian alat-alat yang digunakan hingga proses penggambaran sketsa dan pola pada kain. Beberapa Dosen UWM, Wakil Rektor I Dr. Ir. Ambar Rukmini, MP, Wakil Dekan II Fisipol Dwi Astuti, S.Sos., MA, dan Matheus Gratiano Mali, S.Sos., MPA dosen Program Studi Administrasi Negara turut mendampingi kedua mahasiswa tersebut bersama dengan mahasiswa UWM diantaranya Madha Wirahuda, Nur Fitriani Hidayati, dan Listyaning Mustika yang juga ikut menggambar sketsa dan pola batik pada selembar kain.
Kedua mahasiswa Korea tersebut merasa senang dan mengagumi proses pembuatan batik sejak penggambaran sketsa dan pola hingga pelapisan lilin pada sketsa yang telah dibuat tersebut. Mereka juga mengikuti proses pembuatan batik hingga pencelupan warna pertama yang sesuai dengan arahan Drs. Sukirman, M.Sn. Menurut beliau, pencelupan warna ini hanyalah menjadi warna pertama sekaligus warna dasar pada kain yang telah terdapat sketsa berlapiskan lilin. Sembari menanti kering setelah pencelupan pertama, akan terdapat agenda membuat batik pada beberapa hari selanjutnya untuk melanjutkan proses pembuatan batik menjadi sebuah karya yang utuh dan selesai sehingga kedua mahasiswa Korea tersebut bisa membawa pulang hasil karya mereka sendiri ke negara asalnya. ®HumasWidyaMataram