Kondisi pandemi Covid-19 belum dapat diprediksi akan berlangsung hingga kapan, sehingga dibutuhkan kesiapan seluruh semua pihak dalam menghadapi kondisi beberapa waktu ke depan. Ikatan Cendekiawan Muslim Se – Indonesia (ICMI) DIY juga harus hadir menjadi solusi bangsa atas pandemi yang telah merubah wajah seluruh dunia tersebut. Negara yang dalam hal ini pemerintah harus serius dan tegas dalam setiap pengambilan kebijakan, sehingga tidak terkesan sedang melakukan uji coba kebijakan.
Hal itu disampaikan Herry Zudianto, SE, Akt. MM, Ketua Umum ICMI Korwil DIY dalam acara Syawalan Kebangsaan yang dilaksanakan pada Sabtu (30/5/2020) melalui aplikasi Zoom. Syawalan digelar dengan mengangkat tema Merajut Silaturahmi, Jaga Integrasi, Lawan Pandemi dengan menghadirkan para pakar selaku narasumber. Herry mengatakan kebijakan yang diambil pemerintah harus melibatkan para ahli dan berdasarkan pada ilmu pengetahuan sehingga akan menjadi upaya penanganan Covid-19 yang efektif.
Rektor Universitas Widya Mataram (UWM), Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec, memaparkan sebagai cendekiawan harus mampu menunjukkan sesuatu di tengah kritis yang sedang melanda sebagai akibat dari pandemi Covid-19. Silaturahmi dalam syawalan menyiratkan adanya upaya menguatkan hubungan kasih sayang, sehingga sangat relevan dalam upaya bersama – sama menghadapi persoalan.
“Persoalan Covid-19 tidak melulu berbicara tentang ekonomi saja. Pendidikan Tinggi juga menjadi sektor terdampak, sehingga perlu diperhitungan kembali untuk mengantisipasi dampak negatif yang lebih besar. Hanya akan tersisa enam Perguruan Tinggi di Yogyakarta bertahan manakala pandemi berlangsung hingga akhir tahun 2020. Sementara Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) DIY nomor dua dari aspek pendidikan,” terang Ketua Dewan Pakar ICMI DIY itu.
Dalam perspektif geopolitik, Prof. Dr. Armaidy Armawi, Pengelola Prodi Tannas SPS UGM, mengemukakan, kondisi saat ini dikatakan sebagai geopolitics of fear, yang menakutkan diselurah dunia. Bagi orang – orang konservatif pandemi ini dimaknai sebagai azab, sedangkan bagi yang bisa melihat kembali historis peradaban kehidupan maka kondisi ini merupakan peringatan kepada manusia.
“Kita harus bertanya dalam konteks spiritualitas apakah silaturahmi kita selama ini sudah benar. Selama ini kita belum melakukan silaturahmi dalam bingkai spiritualitas dan moralitas dalam konteks kebangsaan negara Indonesia yang mayoritas beragama Islam,” papar Prof. Armaidy. Silaturahmi perlu ditinjau kembali untuk membayangkan struktur terdalam dari silaturahmi kemudian mengarah pada spiritualitas, hubungan sesama manusia dan hubungan dengan alam. Persoalan pandemi sebaiknya tidak menggunakan lagi istilah lawan, namun harus kembali pada jati diri muslim untuk membangun ketahanan diri.
Sementara itu, Prof. Dr. Hamam Hadi, Epidemiolog, Rektor Universitas Alma Ata Yogyakarta menuturkan, Secara keseluruhan Covid-19 di Indonesia belum mencapai puncak dan belum mulai menurun. Covid-19 di Jabodetabek dan Bandung Raya sudah melampaui puncak dan sudah menurun signifikan sejak pertengahan, tetapi selanjutnya laju Covid-19 mengalami stagnasi. Sedangkan di luar Jabodetabek masih ada kecenderungan meningkat terutama di Jawa Timur yang saat ini menjadi epicentrum Covid-19.
Prof Hamam menjelaskan pengendalian Covid-19 harus dilakukan dengan serius, meningkatkan kedisplinan dalam penerapan protokol kesehatan dan perlu pengawalan dengan ketegasan atas aturan. Dari segi kebijakan harus berpijak dari ilmu pengetahuan (scientifically guided), berhati – hati dalam mengambil kebijakan (carefully) dan tepat dalam mengambil tindakan (properly executed).
Dari sisi ketahanan keluarga, Prof. Dr. Euis Sunarti menerangkan, bahwa berdasarkan hasil surve yang dilakukannya, sebulan pasca pandemi keluarga kelas menengah akan mengalami tekanan ekonomi sehingga akan melakukan coping strategi internal dan berfokus pada penyelesaian masalah. Jika pandemi terus berlanjut, maka tekanan ekonomi pada keluarga menengah akan semakin tinggi.
Pakar Ketahanan Keluarga IPB itu mengatakan, pandemi menyebabkan keluarga mengalami stress cukup tinggi namun juga keluarga meningkatkan interaksi keluarga sehingga kesejahteraan sosial keluarga terjaga.
Ketua Umum ICMI Pusat, Prof. Dr. Jimly Ashidiqie mengungkapan, silaturahmi harus diperluas tidak hanya sebatas di lingkup keluarga, namun juga pada kelompok – kelompok dan ruang yang lebih besar. Silaturahmi harus dibuat efektif dan saat ini harus memberikan prioritas penyelesaian persoalan kesehatan.
“Melalui silaturahmi bisa menyamakan data untuk manajemen krisis dalam penanganan Covid-19. Semangat silaturahmi juga mendidik kita untuk mendengarkan pendapat yang berbeda – beda untuk menyikapi perbedaan sudut pandang,” kata Prof Jimly.
©HumasWidyaMataram